RRI Gelar Debar Final Piala Dunia Bersama Pertuni Jember

  • 20 Jul 2026 15:05 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Euforia Final Piala Dunia 2026 tak hanya dirasakan oleh pecinta sepak bola yang menyaksikan pertandingan melalui layar kaca. Tapi juga siswa-siswi SLB Negeri Branjangan Jember.

LPP RRI Jember menghadirkan pengalaman berbeda melalui kegiatan Debar (Dengar Bareng) Final Piala Dunia 2026 bersama Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Jember, Senin, 20 Juli 2026.

Puluhan penyandang tunanetra dan siswa berkebutuhan khusus menikmati tayangan ulang dengan mengandalkan narasi komentator, sorak penonton, serta atmosfer pertandingan yang tersaji melalui audio.

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kemeriahan ajang olahraga terbesar di dunia ini dapat dinikmati siapa saja, termasuk penyandang disabilitas.

Kepala LPP RRI Jember, Anak Agung Gde Ngurah, mengatakan kegiatan itu merupakan wujud komitmen RRI sebagai media publik untuk menghadirkan ruang hiburan yang inklusif dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

“Tentu ini sejalan dengan harapan pemerintah agar Piala Dunia menjadi momentum yang menghadirkan kegembiraan bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali,” ujarnya.

Untuk itu, kata dia, RRI berupaya memastikan penyandang disabilitas juga dapat merasakan euforia yang sama.

Selain menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk penghormatan terhadap persamaan hak bagi seluruh warga negara.

Sebagai media publik, RRI ingin memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam menikmati layanan informasi maupun hiburan.

Ngurah menambahkan, RRI juga membuka ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk menunjukkan potensi yang mereka miliki.

Beragam talenta, mulai dari menyanyi hingga menari, menurutnya layak diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui siaran RRI.

“Supaya adik-adik kita, anak-anak kita ini tidak hanya dikenal di lingkungan sekolah, tetapi juga hingga tingkat nasional,” tambahnya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala SLB Negeri Branjangan Jember, Farida Intan Arrochim. Ia menilai kegiatan Debar tersebut tidak hanya memberikan hiburan bagi peserta didik, tetapi juga edukatif.

“Anak-anak yang mengalami hambatan penglihatan, mereka bisa ikut merasakan euforia Piala Dunia, merasakan hebohnya dan serunya pertandingan di lapangan,” katanya.

Menurutnya, mendengarkan jalannya pertandingan secara langsung mampu melatih imajinasi, meningkatkan kemampuan menyimak, sekaligus membantu anak-anak lebih fokus dalam menerima informasi melalui indera pendengaran.

Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menginspirasi berbagai lembaga lain untuk menghadirkan lebih banyak kegiatan yang ramah bagi penyandang disabilitas.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini, mereka merasa diakui keberadaannya, mereka merasa bahwa dirinya juga ada di sini dan menjadi bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua DPC Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Jember, Suhri, menilai siaran langsung RRI telah memberikan akses yang sangat berarti bagi penyandang tunanetra untuk mengikuti kemeriahan Piala Dunia.

Menurutnya, radio masih menjadi media yang sangat relevan bagi penyandang disabilitas netra.

Ia mengungkapkan, tidak semua penyandang tunanetra memiliki televisi. Karena itu, akses melalui radio maupun siaran audio di telepon genggam menjadi solusi yang sangat membantu mereka menikmati pertandingan.

“Saya berharap siaran langsung pertandingan olahraga internasional oleh RRI tidak berhenti pada Piala Dunia 2026, tetapi terus berlanjut pada berbagai ajang olahraga berikutnya,” katanya.

Ia juga berharap kolaborasi RRI dengan Pertuni dapat semakin diperkuat untuk memperluas edukasi kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas netra memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan kemampuan.

Kebahagiaan juga dirasakan salah seorang siswa SLB Negeri Branjangan, Nizar. Ia mengaku baru pertama kali merasakan sensasi mengikuti dengar bareng.

Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, penggemar Timnas Spanyol itu selalu mengikuti perkembangan Piala Dunia, bahkan sejak awal turnamen, melalui siaran RRI.

“Sangat senang sekali, karena akhirnya saya bisa merasakan sensasi nonton bareng, tapi hanya dengan mendengarkan saja. Biasanya nonton bareng, sekarang dengar bareng. Sangat seru,” ujarnya.

Bahkan pada laga final, ia rela bangun sejak dini hari untuk mendengarkan jalannya pertandingan hingga mengetahui Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026.

Nizar berharap, kolaborasi antara RRI dan SLB Negeri Branjangan dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak kegiatan yang dapat diikuti siswa penyandang disabilitas di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....