Banyuwangi Sisir Anak Putus Sekolah Hingga Tingkat Desa

  • 17 Jul 2026 01:38 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperkuat upaya menekan angka anak putus sekolah dengan melakukan pendataan hingga tingkat desa. Melalui Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan), sebanyak 3.259 Anak Tidak Sekolah (ATS) berhasil kembali mengenyam pendidikan sejak program tersebut diluncurkan pada 2023.

Program Rindu Bulan mengoptimalkan kolaborasi pemerintah desa, sekolah, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga Baznas untuk mendata sekaligus mengembalikan ATS ke jalur pendidikan. Anak-anak difasilitasi kembali ke sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan sesuai kondisi dan kebutuhannya.

"Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan. Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apa pun persoalannya," ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Kamis (16/7/2026).

Menurut Ipuk, penyisiran dilakukan dari tingkat desa karena setiap anak memiliki penyebab berbeda hingga tidak bersekolah. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat menentukan bentuk bantuan yang lebih tepat sasaran, mulai dari bantuan perlengkapan sekolah, uang saku, pendidikan kesetaraan, hingga pendampingan agar anak kembali ke bangku sekolah.

Selain melalui pendataan, Ipuk juga rutin mendatangi rumah anak-anak yang berisiko putus sekolah untuk memberikan motivasi kepada mereka dan keluarganya. Langkah tersebut dilakukan agar anak tetap melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian, mengatakan proses pendampingan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak yang terindikasi tidak bersekolah. Setelah itu, tim melakukan kunjungan ke rumah untuk mengetahui penyebab utama sebelum menentukan bentuk afirmasi yang dibutuhkan.

"Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia," kata Alfian.

Selain Program Rindu Bulan, Banyuwangi juga menjalankan program Siswa Asuh Sebaya (SAS). Melalui gerakan ini, para siswa diajak menyisihkan uang saku untuk membantu teman yang kurang mampu melalui pemberian sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, hingga kebutuhan pendidikan lainnya. Program tersebut juga menjadi sarana menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....