Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 Angkat Seni dan Pelestarian Lingkungan
- 12 Jul 2026 20:52 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 digelar di Taman Nara Bestari, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Sabtu (11/7/2026).
Festival tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni sekaligus mengajak masyarakat, untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.
Kegiatan ini menampilkan beragam karya lintas disiplin, mulai dari pameran seni rupa, instalasi artistik, pertunjukan musik, teater, tari, digital art, serta pengalaman budaya berbasis lanskap.
Sejumlah seniman, komunitas, relawan, pelajar, dan masyarakat turut terlibat dalam festival yang mengusung konsep kolaborasi berbasis ekologi tersebut.
Founder Rumah Budaya Nara Bestari, Hadi Poernomo, mengatakan Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan merupakan upaya membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan sebuah program kebudayaan tidak hanya diukur dari banyaknya pertunjukan, tetapi juga dari proses, kolaborasi, dan dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat.
“Program ini berhasil membangun ruang dialog publik mengenai ekologi budaya, memperkuat kapasitas seniman dan generasi muda melalui pembinaan berkelanjutan, serta menghasilkan karya seni baru lintas disiplin,” ujarnya.
Ia menambahkan, festival ini juga memperluas jejaring antara komunitas seni, sanggar, relawan, akademisi, dan masyarakat.
Pendekatan pertunjukan berbasis lanskap yang diterapkan menjadi model yang mengintegrasikan seni, ekologi, dan pendidikan budaya, sekaligus meninggalkan warisan berupa pengetahuan, metode pembinaan, karya artistik, jejaring kolaborasi, hingga praktik pengelolaan festival, yang dapat menjadi referensi pengembangan kebudayaan berbasis masyarakat.
"Jember Menyala, Seribu Cahaya merupakan ajakan untuk melihat kebudayaan sebagai kekuatan yang mampu membangun kesadaran ekologis, memperkuat identitas lokal, dan menghadirkan ruang kolaborasi bagi berbagai generasi," katanya.
Melalui Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026, kata dia, seni tidak berhenti sebagai medium pertunjukan, melainkan menjadi instrumen pendidikan, pelestarian lingkungan, inovasi artistik, dan pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan.
"Ketika cahaya menjadi bahasa, seni menjadi gerakan, dan alam menjadi panggung, lahirlah pengalaman budaya yang bukan hanya dikenang sebagai festival, tetapi juga menjadi tonggak lahirnya ekosistem kebudayaan baru,” katanya.
Sementara itu, Kasi PTK SMP Dinas Pendidikan Jember, Rahayuningsih, menilai Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 mampu membangkitkan nostalgia, sekaligus mengajak masyarakat merefleksikan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Ia mengaku, semasa kecil kunang-kunang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di masyarakat.
Namun, berdasarkan ilmu biologi, keberadaan kunang-kunang justru menjadi indikator alami bahwa suatu ekosistem masih sehat, memiliki kualitas udara yang baik, serta minim pencemaran.
"Dahulu, orang tua kami sering bercerita bahwa kunang-kunang adalah penjelmaan dari kuku orang yang sudah meninggal. Mitos itu sempat membuat saya merinding di waktu kecil," ujarnya.
Namun, seiring latar belakang pendidikannya di bidang biologi, cara pandangnya berubah total.
Dia menegaskan bahwa secara ilmiah, kunang-kunang merupakan indikator biologis yang sangat akurat untuk mengukur kesehatan sebuah ekosistem.
Karena itu, ia berharap festival tersebut tidak hanya menjadi perayaan seni, tetapi juga mampu membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam.
"Semoga lingkungan yang bersih dan sehat dapat kembali terwujud, sehingga kunang-kunang bisa marak lagi mewarnai malam hari di seluruh pelosok Jember,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....