Cuaca Tak Menentu Picu Peningkatan Kasus ISPA di Jember
- 09 Jul 2026 02:14 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember mencatat tren peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada pasien anak, dalam tiga bulan terakhir.
Kondisi tersebut diduga dipicu perubahan cuaca yang fluktuatif. Hal itu disampaikan Wakil Direktur RSD dr. Soebandi Jember, Saraswati Dewi, Rabu (8/7/2026).
Kasus yang paling banyak ditemukan di layanan rawat jalan saat ini adalah infeksi saluran pernapasan atas, seperti rinitis, faringitis, dan rinotonsilitis.
Berdasarkan data rumah sakit, jumlah kasus terus meningkat, dari 14 kasus pada bulan April menjadi 16 kasus pada Mei. Kemudian kembali naik menjadi 23 kasus pada Juni.
“ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah. Peningkatan ini berkaitan dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kasus lebih banyak terjadi pada anak, terutama balita. Kelompok usia tersebut dinilai lebih rentan karena sistem kekebalan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.
“Sehingga lebih mudah terpapar infeksi saat terjadi perubahan suhu yang ekstrem,” tambahnya.
Selain kasus ISPA pada anak, RSD dr. Soebandi juga masih merawat pasien pneumonia atau infeksi saluran pernapasan bawah.
Selama April tercatat 45 kasus, kemudian 25 kasus pada Mei, dan meningkat kembali menjadi 35 kasus pada Juni.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat yang cukup, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan.
Di tengah meningkatnya kasus ISPA, masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas, terutama jika sedang sakit atau berada di lingkungan yang berisiko terjadi penularan.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, atau sesak napas yang tidak kunjung membaik.
“Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi, terutama pada balita dan kelompok rentan lainnya,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....