Camilan Ikan Tongkol Antar Mahasiswa UNEJ Raih Prestasi

  • 19 Jun 2026 02:14 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Berawal dari kerinduan terhadap kampung halaman dan keinginan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas, seorang mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil membawa kuliner tradisional Pulau Bawean menembus panggung kompetisi nasional.

Moh Awaidil Fikri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi UNEJ asal Bawean, bersama rekannya Mufiddatul Husnah, mengembangkan sebuah gagasan bisnis bernama “Koncok-Koncok Nyemil’s”. Produk tersebut mengangkat makanan tradisional berbahan dasar ikan tongkol yang dikemas dengan konsep modern agar lebih mudah diterima pasar yang lebih luas.

Bagi Fikri, ide tersebut bukan sekadar upaya mengikuti kompetisi atau mengejar penghargaan. Ia melihat potensi besar yang dimiliki daerah asalnya untuk diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia melalui pendekatan bisnis kreatif.

“Sebagai putra daerah, saya bangga karena ide yang berasal dari budaya lokal Bawean ternyata memiliki daya tarik dan daya saing ketika dipresentasikan di hadapan peserta dari berbagai daerah,” ujar Fikri, Kamis, Juni 2026.

Melalui konsep yang mereka susun, ikan tongkol tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan lokal, tetapi juga sebagai sumber protein yang berpotensi mendukung upaya pencegahan stunting. Perpaduan antara pelestarian budaya, ketahanan pangan, dan inovasi bisnis menjadi nilai lebih yang ditawarkan dalam gagasan tersebut.

Namun, perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan mulus. Di tengah kesibukan perkuliahan, Fikri dan tim harus membagi waktu antara tugas akademik dengan persiapan kompetisi. Proposal, desain presentasi, hingga pembuatan prototipe produk menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas.

“Tantangan terbesar kami adalah mengatur waktu. Banyak persiapan yang harus dilakukan, sehingga kami sering berdiskusi melalui Zoom Meeting dan melanjutkan pekerjaan setelah kuliah selesai. Tidak jarang kami masih bekerja hingga lewat tengah malam,” katanya.

Saat hari presentasi tiba, tantangan lain kembali muncul. Alat remote presenter yang digunakan sempat mengalami kendala teknis sehingga menghambat pergantian slide. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi kepercayaan diri tim dalam menyampaikan materi. Dengan penguasaan konsep yang matang, mereka tetap mampu menjelaskan keunggulan produk secara optimal di hadapan dewan juri.

Bagi Fikri, pengalaman mengikuti kompetisi menjadi ruang belajar yang berbeda dari kegiatan perkuliahan sehari-hari. Selain menambah wawasan, kegiatan tersebut juga membuka kesempatan untuk membangun jejaring dan mengasah kemampuan diri. Ia pun mengajak mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai aktivitas di luar kelas.

“Jangan menunggu hebat untuk memulai, tapi memulailah untuk menjadi hebat. Jangan takut mencoba, karena kalau tidak mencoba kita tidak akan tahu hasilnya. Kuliah tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga memanfaatkan kesempatan di luar kelas untuk berkembang,” pesannya.

Kerja keras mereka akhirnya berbuah manis. Inovasi “Koncok-Koncok Nyemil’s” berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Idea dalam ajang Business Plan Edutalk Fair Competition 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro di Semarang pada 30–31 Mei 2026.

Prestasi tersebut menambah catatan keberhasilan Fikri sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, pada 9 Mei 2026, ia juga meraih juara dalam Festival Esai Mahasiswa Nasional yang digelar di Universitas Wisnuwardhana Malang.

Dari sebuah ide sederhana yang berangkat dari kekayaan kuliner Pulau Bawean, Fikri dan Mufiddatul membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Di tangan generasi muda, warisan budaya tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga diolah menjadi peluang yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....