Agribisnis UNEJ Dorong Strategi Pertanian Berbasis Data

  • 12 Jun 2026 04:00 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Ketidakpastian kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sektor pertanian. Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan regulasi perdagangan internasional membuat pelaku pertanian dituntut lebih adaptif dalam mengambil keputusan. Di tengah kondisi tersebut, data dan teknologi dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi pertanian.

Kesadaran akan pentingnya pemanfaatan data itulah yang mendorong Laboratorium Komputasi dan Sistem Informasi (Lab-KSI) Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember (UNEJ) menggelar Hybrid International Seminar bertajuk “Navigating Uncertainty: Data-Driven Strategies for Resilient Agricultural Economics” di Hall Fakultas Pertanian UNEJ

Seminar yang berlangsung secara luring dan daring tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, serta praktisi dari Indonesia dan Thailand untuk membahas strategi menghadapi berbagai tantangan global melalui pendekatan berbasis data.

Dekan Fakultas Pertanian UNEJ, Prof. M. Rondhi, menilai sektor pertanian saat ini tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Menurutnya, perkembangan teknologi digital yang begitu cepat harus dimanfaatkan untuk membantu sektor pertanian beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

“Ekonomi pertanian saat ini membutuhkan pendekatan baru yang lebih adaptif dan berbasis bukti. Pemanfaatan market intelligence, business intelligence, data sekunder, hingga analisis berbasis data menjadi instrumen penting untuk memperkuat resiliensi sektor pertanian di masa depan,” ujar Rondhi Kamis, 11 Juni 2026.

Bagi dunia akademik, penggunaan data tidak hanya membantu memahami kondisi pasar, tetapi juga menjadi dasar dalam menyusun kebijakan dan strategi pembangunan pertanian yang lebih tepat sasaran. Karena itu, seminar ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan antara akademisi lintas negara yang menghadapi persoalan serupa.

Kepala Lab-KSI Fakultas Pertanian UNEJ, Julian Adam Ridjal, menjelaskan bahwa kolaborasi internasional menjadi langkah penting untuk menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan pertanian saat ini.

“Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan internasional mengenai strategi adaptasi ekonomi pertanian dan memahami pentingnya pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan. Harapannya, penelitian yang dihasilkan juga dapat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals,” katanya.

Dalam sesi pemaparan, akademisi dari Mahasarakham University Thailand, Dr. Orawan Srisompun, menyoroti pentingnya penelitian ekonomi pertanian yang mampu menjawab isu-isu global seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, transformasi digital, dan keberlanjutan sistem pertanian.

Menurutnya, metode penelitian modern berbasis data menjadi fondasi penting dalam menciptakan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan sektor pertanian masa depan.

Sementara itu, Sarawut Saenkham memaparkan bagaimana inovasi teknologi dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing komoditas pertanian. Teknologi, menurutnya, mampu membantu petani meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus mengurangi kehilangan hasil produksi.

Isu lain yang tak kalah penting disampaikan Ahmad Fatikhul Khasan dari A Data Pro Indonesia. Ia menekankan pentingnya kemampuan membaca data dan memahami dinamika pasar global, terutama di tengah munculnya berbagai regulasi baru seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR).

“Regulasi global terus berkembang dan menuntut transparansi yang semakin tinggi. Oleh karena itu, kemampuan membaca data, memahami pasar, serta mengelola informasi menjadi modal penting untuk menjaga daya saing sektor pertanian Indonesia,” ungkapnya.

Besarnya perhatian terhadap tema ini terlihat dari tingginya partisipasi peserta. Sebanyak 84 peserta mengikuti seminar secara langsung di Hall Fakultas Pertanian UNEJ, sementara 734 peserta lainnya bergabung melalui Zoom dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari 38 perguruan tinggi anggota Ikatan Program Studi Agribisnis Indonesia (IPSAGRI).

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa transformasi sektor pertanian berbasis data semakin menjadi perhatian kalangan akademisi. Di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang, kemampuan mengolah informasi dan memanfaatkan teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan pertanian tetap produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan di masa depan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....