Harga Pertamax Naik, Sejumlah Warga Bondowoso Beralih ke Pertalite

  • 10 Jun 2026 19:34 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter per Rabu (10/6/2026) memicu beragam reaksi di kalangan masyarakat Bondowoso. Sebagian konsumen memilih tetap menggunakan Pertamax, sementara lainnya mulai beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran rumah tangga.

Fida, warga Desa Sukowiryo, menjadi salah satu pengguna yang tetap bertahan menggunakan Pertamax. Saat ditemui di SPBU Kembang, pengendara sepeda motor NMAX tersebut mengaku enggan mengganti jenis bahan bakar kendaraannya meski harga Pertamax naik cukup signifikan.

"Ya gimana lagi, sudah biasa pakai Pertamax," ujarnya, Rabu, 10 Juni 2026.

Menurut Fida, keputusan itu diambil karena khawatir performa kendaraannya menurun jika beralih ke Pertalite.

"Takut sepeda rewel," tambahnya.

Berbeda dengan Fida, Wahyudi, warga Kelurahan Badean, justru memutuskan beralih ke Pertalite pada hari pertama pemberlakuan harga baru Pertamax. Ia mengaku mengetahui informasi kenaikan harga dari media massa dan langsung menuju SPBU Kotakulon untuk mengisi Pertalite.

"Tahu dari media, langsung saya beralih. Tadi sempat antre ke Pertalite," katanya.

Wahyudi mengaku selama ini menggunakan Pertamax karena tidak ingin mengantre. Namun kondisi ekonomi saat ini membuatnya harus mengubah kebiasaan tersebut. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM berpotensi menambah beban pengeluaran keluarga.

"Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, ya beli Pertalite saja untuk bertahan," ujarnya.

Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan kondisi antrean yang bervariasi. Di SPBU Kembang, antrean pada jalur Pertalite maupun Pertamax terpantau relatif sepi. Kondisi itu dipengaruhi berkurangnya arus kendaraan setelah jalan di depan SPBU tidak lagi menjadi akses utama Bondowoso-Jember pasca amblesnya Jembatan Sentong.

Sementara itu, suasana berbeda terlihat di SPBU Tamansari. Antrean kendaraan di jalur Pertalite tampak mengular hingga dua baris dengan panjang sekitar 10 meter. Di sisi lain, jalur Pertamax tidak menunjukkan antrean panjang meskipun tetap melayani pembeli secara bergantian.

"Tapi Pertalite memang begini sehari-hari antrinya," kata seorang warga Kecamatan Tamanan yang sedang mengantre.

Kenaikan harga Pertamax juga mendorong sebagian warga mencari alternatif lain. Uci, warga Kelurahan Nangkaan, memilih membeli Pertalite eceran seharga Rp12.000 per liter untuk menghindari antrean panjang di SPBU pada hari pertama kenaikan harga.

"Cari yang cepat dan gak ribet dah," ujarnya.

Uci mengaku sempat khawatir kondisi mesin motornya akan terganggu setelah beralih bahan bakar. Namun ia menilai pilihan tersebut menjadi langkah paling realistis di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Menurutnya, uang Rp30 ribu yang sebelumnya cukup untuk membeli Pertamax guna menunjang aktivitas sehari-hari, kini tidak lagi mampu membeli dua liter bahan bakar tersebut.

"Bismillah saja kalau sekarang," katanya.

Sementara itu, Pengawas SPBU Kembang, Adista Prabudi, mengatakan hingga Rabu siang belum terlihat lonjakan signifikan konsumen yang beralih dari Pertamax ke Pertalite.

"Kurang paham, ini kondisi sepi semua, baik Pertalite maupun Pertamax," ujarnya.

Adista menjelaskan pasokan BBM di SPBU Kembang masih dalam kondisi aman. Stok Pertamax tetap berada di kisaran 8.000 liter untuk kebutuhan dua hingga tiga hari, sedangkan kuota Pertalite mencapai 16.000 liter per hari.

"Tidak tahu juga, belum ada arahan lebih lanjut karena kan baru semalam naiknya," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....