Wamen Komdigi: Egrang Jadi Tombol Jeda Anak dari Dunia Digital
- 09 Mei 2026 22:15 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria menilai permainan tradisional seperti egrang dapat menjadi tombol jeda bagi anak-anak, di tengah tingginya intensitas penggunaan teknologi digital.
Hal itu disampaikan Nezar saat menghadiri launching Festival Egrang ke-14 yang digelar oleh komunitas Tanoker Ledokombo di Sumber Lesung, Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, penetrasi internet di Indonesia yang telah mencapai 80,26 persen dari total populasi membuat anak-anak semakin akrab dengan gadget dan permainan digital.
“Permainan egrang bisa menjadi satu tombol pause, tombol jeda dari intensitas yang begitu tinggi masuknya kita ke ruang digital,” ujarnya.
Nezar mengatakan saat ini sekitar 230 juta masyarakat Indonesia telah mengakses internet dan jaringan telekomunikasi telah menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat masyarakat tidak hanya terkoneksi secara lokal, tetapi juga terhubung secara global.
“Anak-anak kita menggunakan gadget dengan cukup aktif, saya kira. Tentu saja ada sisi positif, ada sisi negatifnya,” katanya.
Untuk itu, pemerintah menerbitkan PP Tunas untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak, melalui pengaturan platform digital.
Nezar menilai permainan tradisional seperti egrang kini hidup berdampingan dengan permainan digital, yang mudah diakses melalui smartphone.
Menurutnya, permainan fisik menghadirkan nilai yang tidak sepenuhnya diperoleh di ruang digital, mulai dari keseimbangan, kerja sama hingga interaksi emosional secara langsung.
Nezar mencontohkan, saat seorang anak terjatuh ketika bermain egrang, teman-temannya justru memberikan dukungan agar kembali bangkit.
“Ada semangat saling mendukung dan mencoba lagi. Itu penting dalam membentuk karakter anak,” ujarnya.
Menurut Nezar, permainan tradisional tetap relevan di tengah perkembangan teknologi, karena mampu menjadi ruang interaksi nyata bagi anak-anak.
Festival Egrang, kata dia, tidak hanya menjaga warisan budaya tetap hidup, tetapi juga menciptakan ruang bermain yang sehat dan mendukung kesehatan emosional anak.
“Kita tidak bisa menghindari teknologi digital. Tapi anak-anak juga membutuhkan ruang bermain fisik dan interaksi sosial yang autentik,” ujarnya.
Nezar juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan dunia digital.
Menurutnya, keluarga merupakan ekosistem pertama yang membentuk relasi anak dengan dunia digital. Sehingga perlu menciptakan ruang yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....