K-9, Peran Anjing dalam Kepolisian dan Militer

  • 29 Apr 2026 08:51 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Di balik tugas kepolisian modern, ada satu “anggota” yang punya kemampuan luar biasa dan tak tergantikan yaitu anjing polisi atau yang dikenal dengan istilah K-9. Keberadaan mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dalam penegakan hukum, mulai dari pelacakan narkotika, bahan peledak, hingga penangkapan tersangka. Menariknya, sejarah anjing polisi ternyata sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu.

Dilansir dari Dogster, penggunaan anjing untuk kepentingan militer dan keamanan sudah ada sejak zaman Romawi, ketika bangsa Romawi memanfaatkan anjing jenis mastiff sebagai “anjing perang” di medan tempur. Seiring waktu, kemampuan alami anjing dalam menjaga, menggembala, dan melindungi manusia berkembang menjadi peran yang lebih spesifik dalam penegakan hukum.

Istilah K-9 sendiri merupakan permainan bunyi dari kata canine (anjing). Sebutan ini mulai populer pada masa World War II karena lebih praktis digunakan dibanding menyebut kata canine secara lengkap.

Menurut informasi dari Dogster, tonggak awal unit pelatihan anjing polisi modern dimulai pada 1899 di kota Ghent, Belgia. Saat itu, kepolisian setempat mendirikan fasilitas pelatihan khusus untuk anjing-anjing yang akan membantu tugas keamanan. Menariknya, jenis anjing yang digunakan bukan seperti yang umum dikenal saat ini, melainkan wolfhound dan sheepdog.

Konsep penggunaan anjing polisi kemudian menarik perhatian banyak negara, termasuk Amerika Serikat. New York City Police Department sempat membentuk unit anjing polisi pertama di negara itu. Namun, metode pelatihannya kala itu dinilai terlalu agresif karena anjing dilatih untuk menganggap polisi berseragam sebagai “teman” dan orang lain sebagai ancaman. Setelah muncul banyak keluhan dan insiden penembakan tidak sengaja, unit tersebut akhirnya dibubarkan.

Peran K-9 semakin berkembang saat Perang Dunia II. Pada 13 Maret 1942, militer Amerika Serikat secara resmi membentuk United States Army K-9 Corps, yang merekrut lebih dari 10 ribu anjing untuk membantu operasi militer. Mereka bertugas di berbagai medan perang, mulai dari patroli, pengintaian, hingga pencarian korban.

Di Inggris, Metropolitan Police Service memanfaatkan anjing untuk misi penyelamatan korban serangan udara saat peristiwa Blitz dalam The Blitz. Keberhasilan itu memperkuat posisi K-9 sebagai bagian penting dalam keamanan dan penegakan hukum.

Pasca perang, unit anjing polisi kembali dikembangkan di berbagai kota di Amerika seperti Baltimore, Los Angeles, dan Portland. Salah satu unit paling sukses adalah milik Kepolisian Baltimore, yang dipimpin mantan anggota Korps K-9 Marinir AS.

Kini, tugas anjing polisi jauh lebih spesifik. Dalam praktik modern, K-9 biasanya dibagi menjadi dua kategori utama: deteksi dan patroli. Unit deteksi dilatih untuk mengenali narkotika, bahan peledak, atau orang hilang melalui penciuman tajamnya. Sementara unit patroli fokus pada pengamanan area, perlindungan petugas, hingga penangkapan tersangka.

Beberapa ras anjing yang umum digunakan dalam unit K-9 antara lain German Shepherd, Belgian Malinois, Rottweiler, Doberman Pinscher, hingga Labrador Retriever. Bahkan Labrador yang dikenal ramah ternyata punya kemampuan pelacakan yang sangat baik dan pernah digunakan polisi London untuk patroli di kawasan Hyde Park.

HowStuffWorks juga menginformasikan bahwa peran anjing militer atau military working dogs (MWD) disebut sebagai salah satu aset paling berharga dalam operasi tempur modern. Hubungan antara manusia dan anjing di dunia militer dibangun atas dasar loyalitas, ketangkasan, dan kemampuan alami yang sulit digantikan teknologi. Anjing dilatih untuk mendeteksi bom, menjaga area strategis, hingga melacak keberadaan musuh. Keunggulan penciuman dan insting perlindungan membuat mereka menjadi “alat hidup” yang sangat efektif dalam situasi berbahaya.

Menariknya, di militer United States, anjing militer sering kali memiliki pangkat yang setara atau bahkan lebih tinggi dibanding pawangnya. Menurut Mayor Angkatan Udara AS Matthew Kowalski, tradisi ini sengaja dipertahankan sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk membangun rasa hormat antara pawang dan anjing. Dengan begitu, hubungan kerja sama menjadi lebih solid dan risiko perlakuan buruk terhadap anjing bisa diminimalkan.

Dalam praktiknya, pelatih anjing militer biasanya memulai karier di level prajurit hingga sersan, sementara anjing yang menjadi pasangannya diperlakukan layaknya seorang non-commissioned officer (NCO). Tradisi ini mempertegas bahwa anjing bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan rekan satu tim di medan perang.

Anjing militer juga mendapat penghormatan khusus setelah pensiun atau gugur dalam tugas. Mereka bisa menerima medali penghargaan dan dimakamkan secara militer jika meninggal. Bahkan sejak disahkannya Robby Law pada tahun 2000, anjing militer yang pensiun dapat diadopsi oleh keluarga, berbeda dengan masa sebelumnya ketika banyak yang harus dieutanasia.

Menurut Kowalski, hingga saat ini belum ada teknologi yang benar-benar mampu menandingi kemampuan anjing dalam mendeteksi ancaman dan melindungi pasukan. Dari perang di Korea, Vietnam, hingga konflik modern di Afghanistan dan Iraq, anjing terus menjadi bagian vital dalam strategi militer.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....