Biaya Operasional Naik, Usaha Laundry Banyuwangi Kian Terjepit

  • 21 Apr 2026 21:58 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Pelaku usaha laundry di Kabupaten Banyuwangi menghadapi tekanan berlapis akibat kenaikan biaya operasional, Selasa, 21 April 2026. Kondisi ini membuat pelaku usaha berada dalam dilema antara menaikkan tarif atau mempertahankan pelanggan.

Kenaikan terjadi pada sejumlah komponen, mulai dari metanol sebagai bahan parfum, plastik kemasan, hingga elpiji nonsubsidi yang digunakan untuk pengeringan dan penyetrikaan.

Pemilik Qta Laundry, Wulan Vita, mengatakan tarif laundry reguler telah naik dari Rp7 ribu menjadi Rp8 ribu per kilogram dalam beberapa pekan terakhir. Namun, setelah penyesuaian tarif tersebut, pelaku usaha kembali dihadapkan pada lonjakan harga elpiji nonsubsidi, karena usaha laundry tidak diperbolehkan menggunakan gas subsidi.

“Menaikkan harga sudah tidak bisa dihindari. Kenaikan harga elpiji 12 kilogram, menambah beban operasional para pelaku usaha,” kata Wulan, Selasa 21 April 2026.

Meski biaya terus meningkat, pelaku usaha belum berani kembali menaikkan tarif. Mereka khawatir kehilangan pelanggan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Kalau harga dinaikkan lagi dalam waktu dekat, pelanggan bisa kabur,” ucap Wulan.

Pemilik Bening Laundry, Joko Supaat, mengungkapkan harga metanol naik dua kali lipat, dari Rp400 ribu menjadi Rp800 ribu per jeriken, hal yang sama terjadi pada harga plastik. Untuk menekan biaya, pelaku usaha mulai mengurangi penggunaan plastik besar dan meminta pelanggan membawa kantong sendiri dari rumah.

“Margin makin tipis. Di sisi lain, konsumen sangat sensitif terhadap kenaikan harga,” ujar Joko.

Selain kenaikan biaya, jumlah pelanggan juga mengalami penurunan sekitar 30 persen dalam beberapa bulan terakhir. Pelaku usaha berharap harga bahan operasional dapat lebih stabil agar usaha tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....