Harga Plastik Naik Tajam, Pegiat Tekankan Produk Guna Ulang

  • 07 Apr 2026 15:19 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - Kenaikan harga plastik sebagai dampak dari perang di Timur Tengah dinilai bisa jadi momen mengajak masyarakat menggunakan produk guna ulang.

Ketua Komunitas Sarkaspace, Ahmad Quraysi, mengatakan kenaikan harga plastik ini harusnya jadi momen untuk beralih menggunakan produk guna ulang. Karena dari hulu ke hilir plastik dinilainya menyimpan masalah. Mulai dari emisi gas rumah kaca, ribuan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

"Plastik naik, saatnya tolak plastik sekali pakai dan beralih ke sistem guna ulang," jelasnya dikonfirmasi Selasa (7/4/2026).

Ia mengatakan kenaikan harga ini menunjukkan bahwa plastik sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Saat konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan minyak dan nafta. Distribusi ikut tersendat. Akibatnya suplai global mengetat dan harga plastik melonjak.

Dari sisi kesehatan, kata pria akrab disapa Uyes itu, lebih dari 99 persen plastik berasal dari bahan bakar fosil. Dan sepanjang siklus hidupnya menghasilkan emisi gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim.

Kemudian, ada sekitar 16 ribu bahan kimia dalam plastik, setidaknya 4.200 di antaranya sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. 23 bahan kimia plastik sudah ditemukan dalam darah pekerja sampah plastik perempuan.

"Plastik sudah meracuni kesehatan dan lingkungan," jelasnya.

Untuk itulah dalam kondisi ini harusnya jadi momentum untuk berbenah dan tidak bergantung pada plastik sekali pakai. Namun beralih ke sistem guna ulang.

Ini merupakan jalan keluar yang lebih stabil dan tidak bergantung terhadap fluktuasi harga minyak. Bahkan, tak menghasilkan limbah berlebih dan aman bagi kesehatan.

"Sebagai konsumen kita bisa mulai dengan hal sederhana membawa tas belanja sendiri, dan wadah isi ulang," jelasnya.

Kemudian, sebagai industri perlu redesign kemasan dan menyediakan sistem penjualan refill yang mudah diakses masyarakat. Sementara pemerintah harus memperkuat kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

"Pemerintah juga harus mendorong sistem guna ulang yang lebih masif di seluruh Indonesia," terangnya.

Sarkaspace mencatat selama sepanjang 2025 saja, pihaknya sudah mengelola sampah plastik sekitar 1,5 ton.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....