Serapan Gabah Bulog Bondowoso Melonjak

  • 08 Mar 2026 17:39 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - Perum Bulog Cabang Bondowoso mencatat serapan gabah petani hingga awal Maret telah mencapai sekitar 37 persen dari target tahun ini. Penyerapan dilakukan melalui puluhan mitra penggilingan yang tersebar di berbagai wilayah.

Perum Bulog Cabang Bondowoso mencatat penyerapan gabah petani hingga awal Maret 2026 telah mencapai sekitar 14.010 ton setara beras. Angka tersebut setara sekitar 37 persen dari target serapan di Kabupaten Bondowoso.

Pemimpin Cabang Perum Bulog Bondowoso, Hesty Retno Kusumastuti, mengatakan target serapan untuk wilayah Bondowoso tahun ini sebesar 38.132 ton setara beras. Target tersebut merupakan bagian dari target total Bulog cabang Bondowoso yang mencapai 65.669 ton setara beras.

Menurut Hesty, penyerapan gabah dilakukan di hampir seluruh wilayah Bondowoso. Hal itu dimungkinkan karena jaringan mitra kerja Bulog yang tersebar di wilayah barat hingga timur kabupaten.

Saat ini terdapat sekitar 23 mitra kerja pengadaan yang membantu Bulog dalam proses penyerapan gabah. Selain itu, Bulog juga bekerja sama dengan sekitar 10 hingga 15 mitra maklon yang berperan dalam proses pengeringan dan penggilingan gabah.

Hesty juga menjelaskan, Bulog sebenarnya melakukan penyerapan gabah langsung dari petani. Namun karena tidak memiliki fasilitas penggilingan, gabah tersebut kemudian diproses oleh mitra maklon. “Dari petani kemudian diarahkan ke mitra maklon yang melakukan proses pengeringan dan penggilingan,” jelasnya.

Pada 2025 lalu, serapan gabah Bulog cabang Bondowoso dan Situbondo bahkan mampu melampaui target awal. Dari target sekitar 38 ribu ton setara beras, realisasi akhirnya mencapai sekitar 43 ribu ton.

Tahun ini, meski target meningkat, pihaknya tetap optimistis dapat mencapainya. Hal itu didukung musim panen yang diperkirakan lebih maju dibandingkan tahun lalu serta meningkatnya partisipasi mitra penggilingan.

“Kalau tahun sebelumnya di Februari serapannya masih sekitar 5 sampai 10 persen. Sekarang akhir Februari saja sudah sekitar 30 persen,” katanya.

Menurutnya, dalam kebijakan pembelian gabah, Bulog menetapkan harga pembelian sebesar Rp6.500 per kilogram untuk gabah sesuai standar kualitas. Sementara untuk beras medium, harga pembelian sekitar Rp12.000 per kilogram dengan standar tingkat patahan (broken) tertentu.

Kebijakan harga tersebut diharapkan dapat melindungi petani dari anjloknya harga saat musim panen. Sebelumnya, harga gabah petani pernah turun hingga kisaran Rp4.000 per kilogram.

Namun demikian, musim hujan tahun ini juga mempengaruhi kualitas gabah karena proses pengeringan menjadi lebih sulit. Untuk mengatasi hal tersebut, Bulog lebih mengoptimalkan kerja sama dengan mitra penggilingan yang memiliki fasilitas pengering (dryer). “Kalau pakai alat pengering, hasilnya lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan lantai jemur yang sangat tergantung cuaca,” jelasnya.

Selain penggilingan, Bulog juga tengah mengoptimalkan kerja sama penyewaan gudang dengan sejumlah mitra karena kapasitas gudang milik Bulog mulai terbatas akibat meningkatnya serapan gabah tahun ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....