Menu MBG Kering Selama Ramadan, Ini Catatan Dosen Gizi Polije
- 02 Mar 2026 05:59 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Ramainya unggahan wali murid di media sosial terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kering selama Ramadan, memunculkan pertanyaan soal kecukupan gizi bagi anak sekolah.
Menanggapi hal tersebut, dosen Gizi Klinik Politeknik Negeri Jember (Polije), M. Rizal Permadi, menilai penilaian kecukupan gizi tidak bisa hanya didasarkan pada foto yang beredar.
Menurutnya, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki variasi menu yang berbeda.
“Dari yang saya amati, ada yang sudah memenuhi kebutuhan gizi, tetapi ada juga yang belum. Jadi tidak bisa digeneralisasi hanya dari satu foto,” ujarnya saat on air Halo RRI, Senin (2/3/2026).
Rizal menjelaskan, secara ideal satu porsi makan anak sekolah harus mengandung sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serta vitamin dan mineral dari sayur dan buah.
Kebutuhan gizi anak berbeda sesuai usia. Menu bisa saja sama untuk jenjang TK, SD, SMP hingga SMA, namun porsi harus disesuaikan. “Semakin bertambah usia anak, kebutuhan energi dan porsinya juga semakin besar,” ujarnya.
Terkait menu kering yang banyak beredar seperti roti, susu, kacang, dan potongan buah, Rizal menilai komposisi tersebut masih berpotensi kurang, terutama dari sisi karbohidrat.
“Memang ada protein dari kacang atau edamame, dan ada susu. Tapi perlu dilihat lagi jenis susunya,” katanya.
Ia mengingatkan, tidak semua susu kemasan mengandung susu murni dalam jumlah tinggi. Beberapa produk justru memiliki kadar gula dan bahan tambahan lebih dominan.
“Idealnya susu yang diberikan benar-benar susu murni, 100 persen dan full cream. Orang tua juga perlu membiasakan diri membaca komposisi pada kemasan,” kata dia.
Jika ketersediaan susu murni terbatas, maka sumber protein lain seperti telur dapat menjadi alternatif yang lebih baik, dibanding produk dengan kadar gula tinggi.
Rizal menegaskan, asupan gizi yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat berdampak pada konsentrasi belajar dan pertumbuhan anak.
Risiko gizi kurang hingga berat badan yang tidak ideal bisa terjadi, bila kebutuhan harian tidak terpenuhi. Karena itu, ia mendorong peran aktif orang tua.
“Sama-sama memastikan makanan yang dibagikan benar-benar dikonsumsi anak serta memberikan edukasi mengenai pentingnya asupan bergizi,” kata dia.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ahli gizi dalam perencanaan dan evaluasi program MBG. Evaluasi diperlukan jika ada menu yang kurang disukai anak, dengan tetap mengacu pada standar gizi dan porsi sesuai usia.
“Perlu variasi menu agar anak tidak bosan, tapi tetap memenuhi standar gizi,” katanya.
Rizal menyarankan penyelenggara program memperhatikan tiga hal utama. Di antaranya keberagaman bahan makanan, penyesuaian dengan preferensi anak tanpa mengabaikan standar gizi, serta memastikan kualitas bahan pangan.
“Jangan sampai terjebak pada kemasan yang terlihat seperti susu, tetapi ternyata kandungan gulanya berlebihan. Substansi gizinya yang harus jadi perhatian,” kata dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....