Pemkab Banyuwangi Gelar Festival Sulur Kembang

  • 20 Apr 2025 19:53 WIB
  •  Jember

KBRN Banyuwangi: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Sulur Kembang, di Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu) Blambangan. Acara yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu (17-19/4/2025) merupakan salah satu wujud nyata dalam menjaga dan melestarikan seni tradisional daerah.

Sebanyak 197 grup tari yang terdiri dari siswa-siswi Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Banyuwangi turut ambil bagian dalam festival ini. Mereka dengan penuh semangat dan kepiawaian menampilkan berbagai tarian tradisional khas Banyuwangi di hadapan dewan juri dan ratusan masyarakat yang antusias menyaksikan.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menyampaikan Festival Sulur Kembang bukan sekadar ajang kompetisi semata, melainkan juga merupakan investasi budaya jangka panjang serta upaya regenerasi pelaku seni tradisional di Banyuwangi.

"Lewat Sulur Kembang, kami memberi ruang untuk regenerasi, eksplorasi, dan transformasi bagi anak muda. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah generasi muda," kata Mujiono, Sabtu (19/4/2025).

Mujiono menjelaskan Pemkab Banyuwangi secara rutin menggelar berbagai acara budaya yang melibatkan ribuan generasi muda, seperti Banyuwangi Ethno Carnival dan Gandrung Sewu, sebagai wujud nyata pelestarian tari daerah.

Ketua Panitia Festival Sulur Kembang, Sabar Harianto, menjelaskan festival ini memperlombakan delapan tarian tradisional yang merupakan karya asli Sanggar Langlang Buana. Kedelapan tarian tersebut adalah Tari Buk-buk Cung, Tari Semut Angkrang, Tari Alumpang, Tari Sapu Kerek, Tari Rampak Celeng, Tari Jaranan Buto, Tari Sabuk Mangir, dan Tari Sri Ganyong.

"Alhamdulillah antusiasmenya tinggi, ini menandakan seni tradisi Banyuwangi tumbuh subur di kalangan anak muda. Semoga kesenian budaya Banyuwangi tidak punah dan terus berkembang,” ujar Sabar, yang juga merupakan pemilik Sanggar Lang Lang Buana.

Malam puncak festival juga diwarnai dengan penampilan perdana dua karya tari baru, yakni Tari Gandrung Condro Dewi dan Tari Sayu Wiwit Jogopati. Pementasan karya-karya baru ini menunjukkan bahwa seni tradisi Banyuwangi terus berinovasi dan mampu berkembang seiring dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan akar budayanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....