Nyekar Jadi Ruang Sunyi Warga Bondowoso Jelang Ramadan

  • 17 Feb 2026 19:35 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, aktivitas di sejumlah makam di Kabupaten Bondowoso tampak meningkat. Tradisi nyekar atau ziarah kubur tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang sunyi bagi masyarakat untuk menata batin dan memperbaiki relasi keluarga sebelum memasuki bulan puasa.

Pantauan di sejumlah pemakaman umum, warga datang silih berganti sejak pagi hingga sore hari. Ada yang berziarah seorang diri, bersama keluarga inti, hingga rombongan keluarga besar. Mereka membersihkan makam, membaca doa, dan meluangkan waktu untuk berdiam sejenak di pusara keluarga yang telah wafat.

Ulama Bondowoso, KH Nawawi Maksum, menilai fenomena ini mencerminkan kebutuhan masyarakat akan ketenangan jiwa menjelang Ramadan. Menurutnya, nyekar menjadi sarana refleksi diri yang efektif di tengah rutinitas kehidupan modern yang serba cepat.

“Ziarah kubur mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Di makam, orang diingatkan bahwa hidup ini sementara, sehingga orientasi hidup bisa kembali diluruskan,” ujar Nawawi saat dikonfirmasi, Selasa (17/2/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa itu menjelaskan, kesadaran akan kematian membuat seseorang lebih siap secara mental menghadapi Ramadan. Dengan batin yang lebih tenang, umat Islam diharapkan dapat menjalani ibadah puasa dengan niat yang lebih tulus dan fokus.

Selain berdampak pada kesiapan spiritual, tradisi nyekar juga memiliki dimensi psikologis. Nawawi menyebut, mengingat kematian dan mendoakan orang yang telah wafat dapat melunakkan hati dan mengurangi beban emosional yang kerap terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

“Hati yang lembut akan lebih mudah menerima nasihat, lebih mudah memaafkan, dan lebih siap menjalani ibadah dengan ikhlas,” tuturnya.

Di sisi lain, nyekar juga berfungsi sebagai media rekonsiliasi keluarga. Momen ziarah sering dimanfaatkan keluarga besar untuk berkumpul, berdoa bersama, serta memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.

“Banyak keluarga yang jarang bertemu, justru bisa berkumpul di makam. Dari situ muncul kesadaran untuk saling mendoakan dan menjaga kerukunan sebelum Ramadan,” kata Nawawi.

Tradisi nyekar yang terus hidup di Bondowoso ini menunjukkan bahwa persiapan Ramadan tidak hanya dilakukan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui upaya menata hati, memperkuat ikatan keluarga, dan menumbuhkan kesadaran akan makna hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....