Ketan Bubuk, Sajian Tradisional dengan Makna Filosofis

  • 09 Jun 2026 09:47 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Ketan merupakan salah satu bahan pangan yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia dan diolah menjadi beragam makanan tradisional. Dari sekian banyak olahannya, ketan bubuk menjadi salah satu sajian sederhana yang masih bertahan hingga kini di tengah banyaknya pilihan makanan modern. Perpaduan ketan pulen, kelapa, dan bubuk kedelai membuat camilan ini tetap digemari lintas generasi.

Seperti dijelaskan dalam Tempo (23/02/2025), ketan telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa dan memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata "ketan" diyakini berasal dari istilah kraketan atau ngraketke ikatan yang berarti merekatkan hubungan antarmanusia. Karena teksturnya yang pulen dan lengket, ketan kemudian menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, dan hubungan yang erat.

Selain itu, ketan juga dimaknai sebagai kemutan dalam bahasa Jawa yang berarti mengingat. Makna tersebut mengandung pesan tentang pentingnya refleksi diri, mengingat kesalahan yang pernah dilakukan, serta menjadi pengingat bagi manusia untuk terus memperbaiki diri. Tidak heran jika ketan kerap hadir dalam berbagai tradisi dan acara budaya masyarakat Jawa.

Makna tersebut membuat ketan tidak hanya hadir sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Seiring waktu, ketan kemudian berkembang menjadi berbagai olahan yang bisa ditemui di banyak daerah di Indonesia.

Mulai dari lemper, wajik, getuk, cenil, bubur ketan hitam, onde-onde, hingga ketan kelapa, semuanya berbahan dasar ketan. Di antara berbagai olahan itu, ketan bubuk termasuk yang paling sederhana, tetapi tetap memiliki tempat tersendiri karena rasanya yang khas dan cara penyajiannya yang sederhana.

Ketan bubuk dibuat dari ketan yang dikukus bersama santan hingga menghasilkan tekstur pulen dan aroma yang harum. Setelah matang, ketan disajikan dengan taburan bubuk kedelai halus dan kelapa parut. Rasanya gurih, sedikit manis, dan sederhana, menghadirkan cita rasa khas camilan rumahan yang masih digemari hingga sekarang.

Menariknya, di tengah tren kuliner modern, ketan bubuk mulai muncul lagi di tempat-tempat yang tidak selalu identik dengan makanan tradisional. Salah satunya di Merthani Coffee and Eatery yang berlokasi di Jalan Istana Tidar, Jember, di mana jajanan ini disajikan berdampingan dengan menu kafe kekinian.

Salah satu pengunjung, Rea, mengaku baru pertama kali menemukan ketan bubuk di kafe tersebut. Selama ini, menurutnya, camilan di kafe lebih banyak berupa kentang goreng atau makanan beku. Ia merasa senang bisa menemukan menu yang berbeda dan mengingatkannya pada jajanan tradisional yang jarang ditemui. Rea juga berharap menu seperti ini tetap dipertahankan agar makanan tradisional semakin dikenal dan tidak kalah oleh tren kuliner modern.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....