Kue-Kue Jadul di Indonesia: Warisan Budaya Asing yang Tetap Populer

  • 23 Feb 2025 19:13 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Kuliner Indonesia dikenal dengan keragamannya yang dipengaruhi oleh berbagai budaya asing. Sejak zaman kolonial hingga era perdagangan internasional, berbagai jenis makanan dari berbagai belahan dunia telah masuk ke Nusantara dan mengalami adaptasi sesuai dengan selera masyarakat setempat. Salah satu bukti dari akulturasi budaya dalam dunia kuliner adalah kue-kue jadul yang hingga kini masih bertahan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dari kue basah hingga kue kering, jejak pengaruh Belanda, Tiongkok, hingga Arab masih terlihat dalam berbagai sajian tradisional yang kita kenal sekarang.

Jenis-Jenis Kue dan Sejarahnya:

  1. Lapis Legit: Warisan Spekkoek dari Belanda

    Lapis legit merupakan salah satu kue tradisional Indonesia yang mendapat pengaruh dari Belanda. Kue ini berasal dari spekkoek, yang dalam bahasa Belanda berarti "kue lapis". Dibuat dengan banyak lapisan tipis yang disusun dengan rapi, kue ini membutuhkan keterampilan dan ketelatenan tinggi dalam proses pembuatannya. Lapis legit dikenal dengan cita rasa manis dan kaya akan rempah, seperti kayu manis dan cengkeh, yang mencerminkan kekayaan rempah-rempah Nusantara. Pada masa kolonial, kue ini sering disajikan dalam acara-acara istimewa sebagai simbol kemewahan dan kemakmuran.

  2. Bika Ambon: Adaptasi Teknik Fermentasi Tiongkok

    Bika Ambon adalah salah satu kue khas dari Medan yang terkenal dengan teksturnya yang unik dan berpori. Meski namanya mengandung kata "Ambon", kue ini sebenarnya tidak berasal dari Ambon, melainkan dipercaya mendapat pengaruh dari kuliner Tiongkok. Proses fermentasi menggunakan santan dan gula menghasilkan tekstur kenyal dan cita rasa yang khas. Hingga kini, Bika Ambon masih menjadi favorit dalam berbagai acara keluarga dan perayaan di Indonesia.

  3. Kastengel: Camilan Lebaran Khas Belanda

    Kastengel merupakan kue kering yang sangat populer, terutama saat perayaan Idul Fitri. Nama "kaasstengels" berasal dari bahasa Belanda, yang berarti stik keju. Kue ini diperkenalkan oleh bangsa Belanda dan telah mengalami berbagai modifikasi sesuai dengan bahan yang tersedia di Indonesia. Awalnya dibuat dengan keju edam khas Belanda, kini kastengel sering menggunakan keju cheddar atau parmesan yang lebih mudah ditemukan di pasaran. Kue ini terkenal dengan teksturnya yang renyah dan cita rasa keju yang gurih.

  4. Nastar: Tart Nanas yang Berasal dari Eropa

    Kue nastar juga merupakan salah satu peninggalan Belanda di Indonesia. Berasal dari "ananas taart" (tart nanas), kue ini awalnya berbentuk pai besar yang diisi dengan selai nanas. Namun, di Indonesia, kue ini mengalami adaptasi dan dibuat dalam bentuk kecil yang lebih praktis untuk dikonsumsi. Nastar memiliki rasa manis-asam dari selai nanas yang khas dan sering dijadikan suguhan wajib saat perayaan hari besar, seperti Idul Fitri dan Natal.

  5. Kue Putu: Jejak Kue Beras dari Tiongkok

    Kue putu merupakan salah satu kue tradisional yang masih sering dijajakan di pinggir jalan hingga saat ini. Kue ini dipercaya berasal dari Tiongkok dan memiliki kemiripan dengan "xian ro bing", kue berbasis tepung beras yang dikukus. Di Indonesia, kue putu dibuat dari tepung beras yang diisi dengan gula aren dan dikukus dalam bambu kecil. Sajian ini semakin nikmat dengan taburan kelapa parut yang memberikan rasa gurih dan aroma khas.

  6. Kue Lumpur: Inspirasi dari Kue-kue Timur Tengah

    Kue lumpur merupakan salah satu kue basah khas Indonesia yang diyakini memiliki pengaruh dari kuliner Timur Tengah. Dibuat dari campuran kentang, santan, dan telur, kue ini memiliki tekstur lembut dengan aroma khas dari vanili dan pandan. Bentuknya yang kecil dan praktis membuatnya menjadi camilan favorit di berbagai acara, dari pasar tradisional hingga restoran modern.

Keberadaan kue-kue jadul ini merupakan bukti nyata bahwa budaya kuliner Indonesia telah mengalami akulturasi dengan berbagai bangsa sejak ratusan tahun yang lalu. Meski zaman terus berkembang dengan hadirnya berbagai jenis makanan modern, kue-kue warisan ini tetap bertahan dan terus digemari oleh berbagai generasi. Tidak hanya menjadi bagian dari tradisi kuliner, kue-kue ini juga menjadi simbol sejarah dan identitas budaya yang patut dilestarikan. Dengan memahami asal-usul dan nilai historisnya, kita dapat semakin menghargai warisan kuliner yang telah melewati berbagai zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....