Cemas dan Overthinking Berlebihan, Apakah termasuk Gangguan Jiwa?
- 07 Okt 2026 11:46 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Perasaan cemas berlebihan dan kebiasaan berpikir buruk secara terus-menerus (overthinking) semakin sering dialami oleh masyarakat dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Kondisi ini kerap memicu pertanyaan, apakah rasa cemas yang muncul masih tergolong wajar atau sudah menjadi tanda gangguan jiwa.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) dari RSD dr. Soebandi Jember, dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ., menjelaskan bahwa rasa cemas sebenarnya merupakan respons alami tubuh saat menghadapi tekanan atau rasa khawatir akan masa depan. Namun, kecemasan menjadi tidak sehat ketika seseorang terus membayangkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi, hingga akhirnya mengganggu kesehatan fisik dan aktivitas sehari-hari.
"Rasa cemas dan overthinking yang berlebihan hingga mengganggu pola tidur, konsentrasi, serta fungsi sosial sehari-hari bisa menjadi indikasi adanya gangguan jiwa yang memerlukan konsultasi medis," ujar dr. Justina dalam dialog interaktif Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Jember pada Jumat, 2 Oktober 2026.
dr. Justina memaparkan, cemas berlebih dapat memicu reaksi berantai di dalam otak. Bagian otak penanda bahaya (amigdala) menjadi terlalu sensitif, kemampuan berpikir logis menurun, dan produksi hormon stres (kortisol) meningkat tanpa henti. Akibatnya, muncul keluhan fisik seperti asam lambung naik, mual, otot tegang, pusing, hingga sulit tidur.
| Baca juga: Pola Hidup Sehat Kunci Umur Panjang |
Sebagai langkah penanganan awal, masyarakat disarankan untuk mulai mencatat dan memetakan masalah satu per satu di atas kertas. Cara sederhana ini membantu pikiran fokus menemukan solusi nyata dan memisahkan mana hal yang bisa diselesaikan saat ini, serta mana yang perlu ditunda agar tidak menjadi beban pikiran berlebih. Bagi keluarga atau kawan terdekat, penting untuk tidak meremehkan perasaan orang yang sedang cemas, melainkan bantu menenangnkannya dengan mengajak mengatur napas secara perlahan.
dr. Justina mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan diagnosis mandiri (self-diagnosis) hanya berdasarkan informasi dari media sosial. Membangun komunikasi yang terbuka di dalam keluarga serta berani berkonsultasi ke poli jiwa atau fasilitas kesehatan terdekat merupakan langkah tepat untuk menjaga kesehatan mental tetap optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....