Jadi Sasaran Bullying, Ahli Ingatkan Dampak Obesitas Anak Tak Cuma Soal Fisik

  • 05 Sep 2026 10:41 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Masalah obesitas pada anak kini menjadi tantangan kesehatan yang kian nyata di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampak kelebihan berat badan ini ternyata tidak hanya mengganggu fisik anak, tetapi juga memicu tekanan mental akibat aksi perundungan (bullying) dari lingkungan sekitar.

Seperti dikutip RRI dari laporan berita Reuters pada Sabtu, 5 September 2026, tekanan sosial akibat perundungan dialami langsung oleh seorang remaja asal Indonesia bernama Intan. Akibat kondisi berat badannya, Intan kerap dijauhi hingga mengalami gangguan psikologis yang cukup berat.

"Tangan Intan dicubitin, enggak ada yang mau temenan sama Intan," tutur ibunda Intan menceritakan kondisi putrinya yang sempat frustrasi. Sang ibu juga menceritakan bagaimana tingginya nafsu makan Intan sebelum menjalani perawatan. "Rasa nafsu makannya banyak banget ya dulu, enggak ada kenyangnya ya, terus-terusan gitu," tambahnya.

Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Dr. dr. Yoga Devaera, Sp.A(K), menjelaskan bahwa obesitas pada anak memang sering kali tidak disadari sejak awal oleh pihak keluarga sebelum dampaknya membesar.

"Karena obesitas pada anak belum tentu disadari pada saat anaknya tidak tampak kelihatan ekstrem gemuk. Orang biasanya baru datang kalau sudah jelas kegemukan, kalau sudah ada gejala komplikasinya. Tapi sebelum sampai ke sana sebetulnya kalau secara grafik, anaknya sudah masuk (kategori gemuk), orang tua seringkali enggak menyadari," jelas Dr. Yoga Devaera.

Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa lonjakan kasus obesitas anak dipicu oleh tingginya konsumsi makanan olahan berharga murah serta minimnya pemahaman masyarakat mengenai bahaya kelebihan berat badan. Berdasarkan perkiraan World Obesity Federation, dampak biaya ekonomi akibat masalah obesitas di Indonesia bahkan diproyeksikan dapat mencapai hampir 47 miliar dolar AS pada tahun 2030.

Di tengah perjuangan medisnya, Intan kini mulai rutin berolahraga jalan kaki tiga kali sehari, mengatur asupan kalori, dan mengubah pola makannya. Usahanya menurunkan berat badan didorong oleh tekad dan cita-citanya yang kuat untuk menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan).

"Pengen nurunin berat badan biar bisa jadi polwan, karena dia itu berwibawa, suka menolong rakyatnya, menolong orang-orang gitu. Intan pengen ngebuktiin ke orang-orang yang udah bully Intan, yang ngina Intan, bahwa Intan tuh bisa jadi polwan," tegas Intan penuh optimisme.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....