Bahaya yang Mengintai Dibalik Kenikmatan Minuman Gula Aren
- 30 Mei 2026 20:11 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember : Beberapa tahun terakhir, skena kuliner Indonesia diwarnai oleh satu pemandangan yang seragam: antrean panjang anak muda di depan gerai kopi susu, boba, atau teh kekinian. Jika diperhatikan lebih dekat, ada satu benang merah yang menyatukan hampir semua menu favorit mereka, yaitu gula aren. Dari kopi susu literan hingga brown sugar boba, fenomena ini bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi masa kini. Namun apakah gula aren dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan tubuh ?
Dilansir dari laman ayosehat.kemenkes.go.id, gula aren dibuat dari nira pohon aren yang direbus hingga mengental lalu mengkristal. Prosesnya tergolong lebih tradisional dan minim pemurnian dibanding gula putih. Karena itu, gula aren masih mengandung sedikit mineral seperti: kalium, magnesium, dan zat besi. Meski terdengar lebih “alami”, jumlah nutrisi ini sebenarnya sangat kecil. Jadi, jangan langsung menganggap gula aren sebagai pilihan yang bebas risiko. Terlepas dari prosesnya, gula aren tetap termasuk gula, dengan kandungan utama sukrosa. Artinya: Gula aren tetap bisa meningkatkan kadar gula darah, dan tetap berkontribusi pada asupan kalori harian. Memang, indeks glikemiknya sedikit lebih rendah dibanding gula putih. Tapi dalam praktiknya, perbedaan ini tidak terlalu berarti jika kamu mengonsumsinya dalam jumlah banyak. Buat kamu yang punya diabetes atau resistensi insulin, ini jadi hal yang perlu diperhatikan serius.
Hal penting yang sering terlewat: banyak minuman “gula aren” di pasaran sebenarnya bukan murni gula aren. Sering kali ditambahkan gula tambahan lain, sirup, krimmer, dan susu tinggi lemak. Contohnya kopi susu gula aren yang populer. Kombinasi bahan-bahan ini bisa membuat minuman tersebut jadi tinggi kalori, bahkan bisa disebut “bom kalori” kalau sering dikonsumsi. Namun apakah kita tidak boleh mengkonsumsi gula aren? Tentu saja boleh namun dengan kadar yang masih normal. Tubuh masih dapat mengkonsumsi gula dengan baik apabila dalam porsi wajar dan terdapat jangka waktu. Sebagai gambaran, rekomendasi umum menyarankan asupan gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total kalori harian, bahkan idealnya di bawah 5%. Sayangnya, satu gelas minuman kekinian saja sering kali sudah mendekati atau bahkan melebihi batas tersebut. Kalau kamu punya kondisi seperti diabetes, sindrom metabolik, dan berat badan berlebih, maka konsumsi gula aren perlu lebih dikontrol. Bahkan dalam porsi kecil pun, bisa berdampak pada kadar gula darah.Dalam kondisi ini, ada baiknya diskusi dengan ahli gizi atau tenaga kesehatan untuk menentukan batas aman. Berikut beberapa tips untuk mengurangi resiko dalam mengkonsumsi gula aren :
Pilih opsi less sugar saat membeli
Batasi pengkonsumsian sehingga tidak berlebihan
Pilih ukuran porsi kecil
Hindari bahan tambahan seperti krimmer, sirup dll
Belajar membuat sendiri di rumah agar dapat mengontrol kadar gula yang digunakan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....