Athlete's Heart: Alasan Jantung Atlet Berdetak Lebih Lambat

  • 31 Agt 2026 07:32 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Jantung atlet dapat berdetak lebih lambat dibandingkan orang yang jarang berolahraga. Kondisi tersebut umumnya merupakan bagian dari adaptasi tubuh terhadap latihan fisik yang dilakukan secara rutin, terutama olahraga daya tahan seperti lari, bersepeda, renang, dan olahraga aerobik lainnya. Denyut jantung istirahat orang dewasa umumnya berada pada kisaran 60 hingga 100 kali per menit. Pada atlet dengan tingkat kebugaran tinggi, denyut jantung istirahat dapat berada mendekati 40 kali per menit. Kondisi ini tidak selalu menunjukkan adanya gangguan jantung karena tubuh atlet telah mengalami berbagai adaptasi akibat latihan yang dilakukan secara konsisten. Fenomena tersebut dikenal sebagai athlete's heart. Istilah ini menggambarkan serangkaian perubahan fisiologis pada jantung akibat latihan fisik jangka panjang. Perubahan dapat mencakup aspek struktur, fungsi, dan sistem listrik jantung.

Salah satu adaptasi yang paling mudah diamati adalah penurunan denyut jantung saat istirahat atau sinus bradycardia. Pada atlet, kondisi tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya pengaruh sistem saraf parasimpatik atau aktivitas saraf vagus terhadap jantung. Latihan daya tahan membuat sistem kardiovaskular bekerja secara berulang dalam durasi panjang. Seiring waktu, tubuh beradaptasi agar mampu mengalirkan darah secara lebih efisien. Jantung dapat meningkatkan kemampuan mengisi dan memompa darah dalam setiap kontraksi sehingga tidak perlu berdetak sebanyak sebelumnya ketika tubuh sedang beristirahat. Dengan kata lain, jantung atlet tidak harus bekerja lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan tubuh dalam kondisi istirahat. Efisiensi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa denyut jantung istirahat pada atlet dapat lebih rendah.

Adaptasi juga dapat terlihat pada pemeriksaan elektrokardiogram atau ECG. Kajian terbaru yang diterbitkan JACC: Advances pada 21 Agustus 2026 menjelaskan bahwa latihan intensif secara teratur dapat menyebabkan adaptasi struktural, fungsional, dan elektrik pada jantung. Pada atlet endurance, sinus bradycardia, early repolarization, dan peningkatan voltase QRS merupakan beberapa pola yang umum ditemukan dan pada sebagian besar kasus mencerminkan adaptasi fisiologis. Besarnya perubahan tersebut juga dipengaruhi jenis olahraga. Atlet endurance cenderung memiliki adaptasi yang lebih berkaitan dengan beban volume karena tubuh harus mempertahankan kerja kardiovaskular dalam waktu lama. Kondisi ini lebih sering berkaitan dengan peningkatan aktivitas vagal dan denyut jantung istirahat yang lebih rendah. Sementara itu, atlet olahraga kekuatan dapat menunjukkan pola adaptasi yang berbeda. Latihan dengan beban tinggi lebih banyak memberikan stimulus tekanan pada sistem kardiovaskular sehingga perubahan pada elektrokardiogram tidak selalu sama dengan atlet endurance. Kajian JACC: Advances menunjukkan bahwa atlet kekuatan cenderung memiliki denyut jantung istirahat yang lebih tinggi dibandingkan atlet endurance.

Pada olahraga yang menggabungkan unsur endurance dan kekuatan seperti sepak bola, bola basket, tinju, dayung, dan rugby, karakteristik adaptasi dapat berada di antara kedua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa istilah athlete's heart tidak menggambarkan satu kondisi yang identik pada seluruh atlet. Denyut jantung kurang dari 60 kali per menit secara medis termasuk bradikardia. Namun, angka tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit. American Heart Association menjelaskan bahwa atlet dan orang yang aktif secara fisik dapat memiliki denyut jantung istirahat di bawah 60 kali per menit. Mayo Clinic juga menyebut denyut jantung istirahat 40 hingga 60 kali per menit dapat ditemukan pada orang sehat, terutama orang dewasa muda dan atlet yang terlatih. Pada atlet dengan kebugaran sangat baik, denyut jantung istirahat dapat mendekati 40 kali per menit. Dalam kondisi tertentu, denyut jantung atlet yang sangat terlatih bahkan dapat berada pada kisaran 30 hingga 40 kali per menit saat istirahat. Pedoman kardiologi olahraga menjelaskan bahwa sinus bradycardia merupakan temuan yang umum pada atlet dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tonus vagal akibat latihan.

Namun, denyut jantung yang rendah tidak selalu boleh langsung dianggap sebagai tanda kebugaran. Kondisi tersebut perlu dilihat bersama gejala dan riwayat kesehatan seseorang. Atlet yang memiliki denyut jantung rendah tetapi tetap merasa sehat, mampu melakukan aktivitas normal, dan tidak mengalami keluhan dapat memiliki adaptasi fisiologis yang normal. Sebaliknya, denyut jantung rendah yang disertai pusing, kelemahan, kelelahan berlebihan, sesak napas, nyeri dada, atau pingsan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Perhatian khusus juga diperlukan jika denyut jantung sangat rendah dan tidak meningkat secara normal ketika tubuh mulai beraktivitas. Kajian JACC: Advances menyebut denyut jantung kurang dari 30 kali per menit perlu dievaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan sistem konduksi atau kelainan struktural jantung.

Pingsan ketika sedang berolahraga juga merupakan kondisi yang tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari kebugaran. Pernyataan ilmiah American Heart Association dan American College of Cardiology menyebut pingsan yang terjadi saat olahraga, terutama jika disertai jantung berdebar tiba-tiba, nyeri dada saat aktivitas, atau sesak napas berlebihan, memerlukan evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan penyakit jantung struktural maupun gangguan listrik jantung. Karena itu, atlet tidak perlu mengejar denyut jantung serendah mungkin. Denyut jantung istirahat bukan target latihan yang harus terus diturunkan. Penurunan denyut jantung merupakan salah satu kemungkinan hasil adaptasi kebugaran, bukan satu-satunya ukuran bahwa program olahraga berhasil. Pengukuran denyut jantung istirahat sebaiknya dilakukan secara konsisten, misalnya pada pagi hari setelah bangun dan sebelum melakukan aktivitas. Mayo Clinic menyebut waktu tersebut sebagai salah satu waktu yang baik untuk mengetahui denyut jantung istirahat.

Penggunaan jam olahraga atau perangkat pemantau denyut jantung dapat membantu melihat perubahan dari waktu ke waktu. Namun, hasil perangkat tersebut tetap perlu dilihat sebagai informasi pendukung, bukan sebagai pengganti pemeriksaan medis apabila terdapat keluhan. Denyut jantung juga dapat berubah karena berbagai faktor seperti kualitas tidur, stres, suhu tubuh dan lingkungan, aktivitas fisik sebelumnya, hidrasi, konsumsi kafein, penyakit, serta obat-obatan tertentu. Karena itu, satu angka pengukuran tidak cukup untuk menggambarkan kondisi jantung seseorang. Athlete's heart pada dasarnya merupakan contoh kemampuan tubuh melakukan adaptasi terhadap tuntutan latihan. Jantung atlet yang berdetak lebih lambat saat istirahat bukan berarti jantung bekerja lebih lemah. Sebaliknya, dalam konteks yang tepat, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa jantung mampu bekerja lebih efisien dalam memenuhi kebutuhan tubuh saat tidak melakukan aktivitas berat.

Meski demikian, adaptasi fisiologis dan kelainan jantung terkadang memiliki tampilan yang mirip. Karena itu, pemeriksaan dan interpretasi oleh tenaga medis tetap penting apabila ditemukan denyut yang sangat rendah, perubahan ECG yang tidak lazim, penurunan kemampuan olahraga, atau gejala yang mengarah pada gangguan jantung. Bagi pelari dan atlet endurance, denyut jantung istirahat yang semakin rendah setelah menjalani latihan secara konsisten dapat menjadi salah satu tanda adaptasi kebugaran. Namun, indikator yang lebih penting tetap mencakup kemampuan melakukan aktivitas, performa, pemulihan, tidak adanya gejala yang mengkhawatirkan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. Jantung atlet pada akhirnya bukan sekadar jantung yang berdetak lebih lambat. Athlete's heart merupakan hasil dari proses adaptasi kompleks yang memungkinkan sistem kardiovaskular menyesuaikan diri dengan beban latihan. Selama perubahan tersebut bersifat fisiologis dan tidak disertai gejala, denyut jantung yang rendah dapat menjadi bagian normal dari kondisi tubuh yang terlatih.

Referensi Lansiran

JACC: Advances – The Athlete's ECG: Sport-Specific Patterns, Physiological Remodeling, and Clinical Interpretation, 21 Agustus 2026. JACC: Advances

Mayo Clinic – Heart rate: What's normal?, 22 Oktober 2025. Mayo Clinic

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....