TBC Bisa Diobati, Masyarakat Diminta Tak Beri Stigma pada Penderita
- 30 Agt 2026 16:18 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Pengobatan yang dilakukan secara teratur dan sampai tuntas menjadi salah satu kunci penting dalam penanganan tuberkulosis (TBC). Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat diperlukan untuk memastikan bakteri penyebab TBC dapat ditangani sekaligus mencegah terjadinya resistensi obat.
Aurellia Safa Puri Prasetyo, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember dan perwakilan SCOPH CIMSA UNEJ, menjelaskan bahwa pengobatan utama TBC menggunakan kombinasi beberapa jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Pengobatan tersebut harus dilakukan secara rutin sesuai dengan anjuran dokter dan tidak boleh dihentikan hanya karena pasien mulai merasa sehat.
“Pengobatan ini harus dilakukan secara teratur dan tuntas sesuai dengan resep dokter untuk mencegah resistensi obat,” ujar Aurel dalam Program Jaga Malam Pro 2 Jember, Jumat, 3 April 2026.
Menurutnya, pengobatan yang tidak diselesaikan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap obat dan meningkatkan risiko terjadinya Multi-Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB). Karena itu, pasien perlu tetap mengonsumsi obat sesuai aturan selama masa pengobatan, meskipun kondisi tubuh mulai membaik.
Aurel menyebut pengobatan TBC umumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa lamanya pengobatan berkaitan dengan karakter bakteri TBC yang membutuhkan penanganan secara konsisten.
“Jadi OAT harus tetap diminum dan dilanjutkan hingga dipastikan seluruh bakteri TBC ini mati,” katanya.
Selain persoalan pengobatan, TBC juga menghadirkan tantangan lain berupa stigma di masyarakat. Aurel menjelaskan bahwa pasien TBC masih kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif karena penyakit tersebut sering dikaitkan dengan kemiskinan, kebersihan yang buruk, atau perilaku tidak sehat.
Padahal, menurutnya, TBC dapat dicegah dan diobati apabila mendapatkan penanganan yang tepat. Stigma justru dapat membuat pasien merasa rendah diri dan bahkan enggan mencari bantuan medis karena takut diketahui oleh orang lain.
“Stigma ini bisa menghambat upaya pencegahan dan pengendalian TB karena pasiennya itu, ya balik lagi, enggak mau buat nyari bantuan medis,” tutur Aurel.
Karena itu, masyarakat perlu membangun kepedulian tanpa memberikan stigma kepada pasien. Upaya pencegahan tetap penting dilakukan, tetapi tidak berarti pasien TBC harus dikucilkan.
Dalam program Jaga Malam Pro 2 Jember, Aurel juga menjelaskan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu mencegah penularan TBC. Di antaranya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara rutin, memastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, serta membiasakan rumah mendapatkan sinar matahari dan udara segar.
Etika batuk juga menjadi bagian penting dalam pencegahan penularan. Masyarakat dapat menggunakan masker atau menutup mulut dan hidung menggunakan bagian dalam lengan atas ketika batuk maupun bersin. Jika menggunakan tisu, tisu yang telah digunakan perlu segera dibuang ke tempat sampah dan tangan kemudian dicuci menggunakan sabun serta air mengalir.
Aurel menegaskan bahwa penanggulangan TBC bukan hanya menjadi tanggung jawab pasien maupun tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
“TB bukan hanya masalah individu, tetapi juga tanggung jawab bersama di mana kita sudah bertekad untuk menuntaskan TB pada tahun 2030,” kata Aurel.
Menurutnya, deteksi dini, pengobatan yang tuntas, penerapan pola hidup sehat, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memutus rantai penyebaran TBC.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....