World Breastfeeding Week, Dukungan Jadi Kunci di Balik Perjuangan Ibu Memberikan A

  • 10 Agt 2026 11:56 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember — Pemberian Air Susu Ibu (ASI) kerap dipandang sebagai proses alami yang otomatis dapat dilakukan setelah seorang ibu melahirkan. Padahal, perjalanan menyusui tidak selalu mudah karena dapat menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari kondisi fisik, emosional, hingga lingkungan sosial. Hal tersebut disampaikan Perwakilan Standing Committee on Sexual and Reproductive Health and Rights including HIV and AIDS (SCORA) Center for Indonesian Medical Students' Activities (CIMSA) Universitas Jember, Aulia Azhara, saat menjadi narasumber dalam program dialog Jaga Malam Pro 2 RRI Jember pada 7 Agustus 2026 dengan tema World Breastfeeding Week: Di Balik Tiap Tetes ASI, Ada Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat.

Menurut Aulia, anggapan bahwa proses menyusui akan berjalan otomatis setelah bayi lahir perlu diluruskan. Menyusui merupakan perjalanan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental serta dukungan dari lingkungan sekitar. Ia menjelaskan, World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. ASI mengandung berbagai zat gizi dan antibodi yang berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh bayi serta membantu melindunginya dari berbagai penyakit infeksi.

"Kandungan antibodi di dalam ASI bertindak ibarat vaksin pertama yang membentengi tubuh bayi dari berbagai penyakit infeksi, seperti diare dan ISPA," kata Aulia.

Manfaat menyusui tidak hanya dirasakan bayi. Menurut Aulia, proses menyusui juga memberikan manfaat bagi kesehatan ibu. Ketika bayi menyusu, tubuh ibu melepaskan hormon oksitosin yang membantu proses kontraksi rahim setelah persalinan. Dalam jangka panjang, menyusui juga dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa penyakit, termasuk kanker payudara dan kanker ovarium.

Namun, perjalanan memberikan ASI eksklusif juga dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu. Aulia menyebut kecemasan, tekanan, dan kelelahan mental dapat memengaruhi proses pelepasan ASI. "Masalahnya, pelepasan hormon oksitosin ini sangat peka terhadap kondisi emosional ibu. Ketika ibu merasa cemas, tertekan, atau kelelahan secara mental, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang menghambat pelepasan oksitosin," jelasnya.

Kondisi tersebut dapat membuat refleks pengeluaran ASI atau let-down reflex terganggu. Akibatnya, aliran ASI dapat terasa lebih lambat meskipun produksi ASI di dalam payudara sebenarnya tetap mencukupi. Karena itu, keberadaan dukungan dari keluarga, terutama suami, menjadi bagian penting dalam perjalanan menyusui. Dukungan tersebut tidak selalu berupa bantuan yang berkaitan langsung dengan pemberian ASI, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai pekerjaan sehari-hari yang membantu mengurangi beban ibu.

"Dukungan suami dan keluarga adalah kunci utama. Istilah breastfeeding father atau ayah ASI itu nyata. Suami memang tidak bisa menyusui secara langsung, tetapi peran dan kehadiran fisik maupun emosional suami di rumah bisa menurunkan tingkat stres ibu secara drastis," tegas Aulia.

Menurutnya, suami dapat membantu dengan merawat bayi, berbagi pekerjaan rumah tangga, memberikan waktu istirahat, serta menjadi pendengar ketika ibu menghadapi kesulitan selama masa menyusui. Tantangan juga dapat dirasakan oleh ibu yang kembali bekerja setelah masa persalinan. Mereka harus membagi waktu antara pekerjaan dan kebutuhan bayi, termasuk menyediakan waktu untuk memerah ASI. Karena itu, lingkungan kerja yang mendukung menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pemberian ASI.

Penyediaan ruang laktasi yang layak, bersih, dan memberikan privasi dapat membantu ibu bekerja tetap menjalankan proses menyusui. Dukungan serupa juga dibutuhkan di ruang publik agar ibu tidak merasa kesulitan ketika harus memberikan ASI atau memerah ASI di luar rumah. Aulia menekankan, keberhasilan menyusui bukan semata-mata menjadi tanggung jawab ibu. Keluarga, tenaga kesehatan, lingkungan kerja, pemerintah, hingga masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ibu dan bayi. "Menyusui adalah tanggung jawab kolektif. Keberhasilan seorang ibu menyusui bergantung pada seberapa kuat jaringan pendukung di sekelilingnya, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, pemerintah, hingga empati masyarakat umum," pungkas Aulia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....