Beli Obat tanpa Resep Dokter? Simak Penjelasannya!
- 27 Jul 2026 13:32 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Jember - Obat keras dalam regulasi Indonesia disebut "Obat Daftar G," dari kata dalam Bahasa Belanda gevaarlijk yang artinya berbahaya, merupakan golongan obat yang hanya boleh di dapat dan digunakan berdasarkan resep dokter, dan Ini bukan sekedar aturan simbolik. Kementrian Kesehatan sudah mengaturnya sejak tahun 1986 melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 02396/A/SK/VIII/1986, dan setiap kemasan obat keras wajib mencantumkan tulisan "Harus dengan resep dokter."
Cara mudah mengenali obat keras dilansir Klikdokter 4 Mei 2026,
Contoh Golongan Obat Keras yang Sering Dibeli Sendiri
| Baca juga: Tanda Paru-paru Kotor |
1. Antibiotik seperti amoxicillin atau ciprofloxacin sering dibeli sendiri untuk demam atau batuk pilek yang notabene mayoritas kasus disebabkan oleh virus yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa antibiotik. Antibiotik tidak bekerja pada virus. Jadi hasilnya bukan sembuh lebih cepat namun justru dapat meningkatkan resiko bakteri menjadi lebih kebal dan tidak lagi merespons pengobatan atau yang di sebut dengan istilah resistensi antibiotic.
2. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) seperti asam mefenamat atau meloxicam Seringkali di gunakan untuk meredakan nyeri, walau memang cukup efektif, tetapi penggunaan tanpa pengawasan dapat memicu efek samping berupa luka/perdarahan lambung, kerusakan ginjal hingga resiko penyakit kardiovaskular.
3. Kortikosteroid seperti dexamethasone dan methylprerdnisolone. Sering kali di gunakan sebagai obat radang, dan juga sebagian orang memakainya sebagai "penggemuk badan". Padahal konsumsi jangka panjang tanpa kontrol dokter bisa merusak tulang (osteoporosis), memicu diabetes, gangguan sistem imun dan masalah hormonal.
4. Obat antihipertensi seperti amlodipine, candesartan dan lainnya.
5. Obat kolesterol seperti simvastatin, atorvastatin yang juga termasuk kategori ini.
Apa Saja Resiko dan Bahayanya?
Kesalahan Diagnosis dan Perburukan Penyakit
Tanpa pemeriksaan dokter, seseorang umumnya menebak sendiri apa yang menjadi kemungkinan penyakitnya, dan hal ini sangat rentan terjadi kesalahan dalam mengenali penyakitnya sendiri. Akibatnya, penyakit asli yang sesungguhnya tetap berprogres dan berkembang tanpa di sadari. Resiko penggunaan obat sendiri atau swamedikasi antara lain: Salah diagnosis, keterlambatan mendapat penanganan yang tepat, masking effect atau gejala penyakit serius yang tertutup sementara karena efek obat.
Efek Samping Obat yang Serius
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar secara terbuka menyebut bahwa obat keras yang dipakai tidak sesuai indikasi bisa berujung pada gagal ginjal, gagal jantung, keracunan, bahkan kanker. Data FDA Amerika Serikat mencatat terjadi lebih dari 1,25 juta kasus efek samping serius sepanjang tahun 2022, dan hampir 175.000 di antaranya berakhir dengan kematian.
Penggunaan OAINS secara spesifik meningkatkan risiko perdarahan saluran cerna hingga empat kali lipat bila dikonsumsi tanpa pengawasan dokter. Bila OAINS dikombinasikan dengan kortikosteroid yang mana menjadi hal yang sangat mungkin terjadi pada orang yang membeli keduanya sendiri, risikonya meningkat sampai 12 kali lipat.
Interaksi Obat
Lalu ada masalah interaksi obat. Umumnya dokter akan memeriksa riwayat pengobatan dan melakukan pengkajian secara menyeluruh sebelum meresepkan obat yang baru. Bila obat keras dibeli sendiri, tidak ada yang melakukan pengkajian tersebut dan dua obat yang kelihatan aman dapat saling berinteraksi dan menimbulkan efek samping berbahaya bila diminum bersamaan.
Resistensi Antibiotik
Soal antibiotik, WHO melaporkan 1 dari 6 infeksi bakteri di seluruh dunia sudah resisten terhadap antibiotik standar, dengan beban terberat di Asia Tenggara yang mana merupakan kawasan tempat Indonesia berada. Bila tren ini berlanjut, di proyeksikan bahwa resistensi antimikroba dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahun pada tahun 2050. Setiap pembelian antibiotik tanpa resep memberikan kontribusi pada krisis global ini.
Ketergantungan dan Gangguan Mental
Beberapa jenis obat keras juga menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologis jika digunakan terus menerus tanpa pantauan, termasuk dampak terhadap kesehatan mental yang dapat timbul pada penggunaan jangka Panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....