Konektivitas Digital Berlebih Berisiko Ganggu Kesehatan Mental

  • 21 Jul 2026 09:48 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah mengubah pola komunikasi dan aktivitas masyarakat sehari-hari. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, penggunaan teknologi secara berlebihan juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan mental apabila tidak disertai pengelolaan yang bijak. Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Inke Kusumastuti, Sp.KJ, dalam program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Jember bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jember, Jumat 17 Juli 2026.

Dialog yang dipandu presenter Nova Novita itu mengangkat tema konektivitas digital dan kesehatan mental membatasi layar, menjaga waras. Menurut dr. Inke, perkembangan teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, paparan yang berlebihan dapat memunculkan berbagai persoalan psikologis yang perlu diwaspadai.

Ia menjelaskan terdapat tiga ancaman utama yang muncul akibat konektivitas digital yang tidak

terkendali. Pertama, banjir informasi (information overload) yang membuat masyarakat kesulitan memilah informasi yang benar dan relevan.

“Arus informasi yang sangat deras dapat memicu stres karena seseorang terus-menerus menerima berbagai informasi tanpa sempat melakukan proses penyaringan secara optimal,” ujarnya.

Ancaman kedua adalah kaburnya batas antara realitas dan dunia maya. Menurutnya, algoritma media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi membentuk persepsi yang tidak selalu sesuai dengan kondisi nyata.

“Media sosial sering kali hanya menampilkan sebagian realitas. Jika tidak disikapi secara kritis, seseorang dapat terjebak pada persepsi yang keliru mengenai dirinya maupun lingkungan sekitar,” katanya.

Sementara ancaman ketiga berkaitan dengan memudarnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kemudahan komunikasi melalui aplikasi pesan instan membuat banyak orang tetap terhubung dengan urusan pekerjaan di luar jam kerja sehingga mengganggu keseimbangan hidup.

“Work-life balance menjadi tantangan baru karena batas waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur,” tambahnya.

Dalam dialog tersebut, dr. Inke juga menjelaskan mengenai batas penggunaan layar (screen time) yang dianjurkan. Untuk orang dewasa, penggunaan layar untuk keperluan hiburan disarankan tidak lebih dari empat jam per hari.

Sedangkan bagi anak usia di bawah dua tahun, ia menegaskan bahwa paparan layar sebaiknya dihindari sama sekali atau zero screen time. Langkah tersebut penting untuk mendukung perkembangan kemampuan sosial, bahasa, dan interaksi anak secara optimal.

Menanggapi pertanyaan pendengar terkait kecanduan gawai dan permainan daring pada anak, dr. Inke menekankan pentingnya peran orang tua dalam menerapkan aturan yang konsisten di rumah.

Menurutnya, penerapan sistem reward dan punishment yang mendidik dapat membantu membentuk kebiasaan penggunaan gawai yang lebih sehat. Namun, keberhasilan aturan tersebut sangat bergantung pada keteladanan orang tua.

“Anak akan lebih mudah mengikuti aturan apabila melihat orang tuanya juga mampu membatasi penggunaan gawai ketika sedang berinteraksi bersama keluarga,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa anak yang marah, menangis, atau menunjukkan perilaku agresif saat gawainya disita dapat mengalami gejala withdrawal atau putus kebiasaan. Dalam kondisi tersebut, orang tua diminta tetap tenang dan konsisten menjalankan aturan yang telah disepakati.

Selain itu, dr. Inke mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan digital detox sebagai upaya menjaga kesehatan mental. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain membatasi waktu mengakses media sosial, mengurangi frekuensi memeriksa berita, serta memperbanyak interaksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

“Kita perlu belajar melambat, tidak selalu reaktif terhadap setiap informasi yang muncul, dan lebih fokus pada kehidupan nyata yang ada di sekitar kita,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan profesional apabila penggunaan gawai mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Gangguan pola tidur, penurunan prestasi belajar atau kerja, perubahan pola makan, hingga menurunnya kualitas hubungan sosial dapat menjadi tanda perlunya konsultasi dengan psikolog maupun psikiater.

Menurut dr. Inke, kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dengan pengelolaan teknologi yang bijak, masyarakat dapat tetap menikmati manfaat dunia digital tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis.

Program Indonesia Sehat ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan hidup, sehingga konektivitas digital tetap menjadi sarana yang mendukung produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....