Bahaya Mengonsumsi Makanan Berlebihan saat Berbuka Puasa

  • 23 Feb 2026 10:50 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah besar secara sekaligus saat waktu berbuka tiba dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada sistem pencernaan manusia. Setelah mengosongkan perut selama belasan jam, kondisi lambung berada dalam keadaan yang sangat sensitif dan memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri kembali. Memaksa lambung bekerja ekstra keras secara tiba-tiba dengan porsi makan yang besar dapat memicu kontraksi yang menyakitkan serta rasa tidak nyaman pada bagian perut.

Efek samping yang paling sering dirasakan akibat makan berlebihan adalah munculnya rasa kantuk yang luar biasa dan tubuh yang terasa lemas setelah berbuka. Hal ini terjadi karena aliran darah yang seharusnya tersebar ke seluruh tubuh justru terpusat ke sistem pencernaan untuk mengolah makanan yang masuk dalam jumlah banyak. Akibatnya, otak dan otot mengalami kekurangan oksigen sementara sehingga seseorang akan merasa kehilangan energi untuk melakukan aktivitas ibadah selanjutnya pada malam hari.

Selain rasa lemas, konsumsi makanan manis dan berlemak secara berlebihan dalam satu waktu dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara drastis. Lonjakan ini kemudian diikuti oleh peningkatan hormon insulin yang cepat, yang pada akhirnya dapat mengganggu metabolisme tubuh dalam jangka panjang jika terus dilakukan setiap hari. Ketidakseimbangan ini juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan obesitas meskipun seseorang sedang menjalankan ibadah puasa.

Gangguan refluks asam lambung atau yang biasa disebut dengan gerd juga menjadi ancaman serius bagi mereka yang tidak mengontrol porsi makan saat berbuka. Tekanan yang terlalu besar di dalam lambung akibat penuhnya muatan makanan dapat menyebabkan asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini biasanya disertai dengan sensasi terbakar di dada serta rasa pahit di mulut yang tentu saja sangat mengganggu kenyamanan beristirahat.

Para ahli gizi menyarankan agar proses pembatalan puasa dilakukan secara bertahap dengan mendahului konsumsi air putih dan makanan ringan yang mudah diserap tubuh. Pemberian jeda waktu sebelum masuk ke menu utama memberikan kesempatan bagi sistem pencernaan untuk memproduksi enzim yang diperlukan secara optimal. Dengan cara ini, nutrisi dari makanan dapat diserap dengan lebih baik tanpa memberikan beban berlebih pada organ dalam yang baru saja beristirahat lama.

Penerapan pola makan yang bijak dan tidak berlebihan saat berbuka puasa merupakan kunci utama dalam menjaga kebugaran tubuh selama bulan Ramadan. Kesadaran untuk mengontrol nafsu makan bukan hanya bagian dari esensi ibadah, tetapi juga merupakan bentuk investasi kesehatan jangka panjang bagi setiap individu. Melalui pengaturan porsi yang tepat, tubuh akan tetap terasa ringan dan bertenaga untuk menjalani seluruh rangkaian aktivitas harian dengan lebih maksimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....