Berita Dicari atau Datang Sendiri? Dilema Era Digital

  • 28 Sep 2026 18:23 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Pesatnya perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat dalam menyerap dan mengonsumsi informasi sehari-hari. Jika dahulu masyarakat harus aktif mencari berita melalui media cetak maupun elektronik, kini arus informasi justru kerap datang secara spontan memenuhi linimasa media sosial. Fenomena perubahan pola konsumsi media ini menjadi topik diskusi mendalam dalam program Jaga Malam Pro 2 RRI Jember bersama para penggiat pers mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Kampus (UKMPK) Tegalboto Universitas Jember.

Di era algoritma digital, pengguna media sosial kerap disuguhi beragam unggahan informasi tanpa pernah berniat mencarinya secara eksplisit. Perubahan pola ini dipicu oleh mekanisme sistem rekomendasi platform yang menyesuaikan konten berdasarkan kebiasaan dan minat pengguna. Menurut Anggota Teks Media Sosial UKMPK Tegalboto, Bilkis Hadifa Kalila, kondisi saat ini membuat batas antara pencarian berita secara aktif dan konsumsi informasi secara pasif menjadi semakin kabur di tengah ramainya konten hiburan. "Di dunia digital sekarang, kita kalau mau mendapatkan berita itu kadang beritanya datang sendiri tanpa diundang. Masyarakat sebenarnya masih aktif mencari berita, tapi itu sudah tercampur dengan konsumsi berita secara pasif seperti di TikTok yang menyatu dengan konten hiburan," ujar Bilkis.

Peran algoritma yang sangat dominan dalam menentukan arus informasi di linimasa juga membawa konsekuensi tersendiri terhadap sudut pandang publik. Pola penyajian informasi yang terus-menerus seragam berisiko mengurung pengguna dalam ruang gema atau filter bubble. Sekretaris Umum UKMPK Tegalboto, Mario, menjelaskan bahwa fenomena ini dapat mempersempit wawasan seseorang karena hanya disuguhkan satu sudut pandang yang disukai. "Kondisi tersebut dapat mempersempit cara pandang kita. Fenomena ini disebut filter bubble, di mana pandangan orang terhadap sesuatu menjadi lebih runcing karena hanya menerima satu sisi informasi tanpa mengetahui sudut pandang lainnya," ungkap Mario. Senin 28 September 2026.

Selain persoalan penyempitan sudut pandang, budaya scrolling cepat pada video berdurasi singkat turut memicu kecenderungan masyarakat menyerap informasi secara sepotong-sepotong. Format konten yang ringkas kerap mengabaikan kronologi, data pendukung, maupun latar belakang peristiwa secara utuh. Hal ini sering diperparah oleh penggunaan judul yang sensasional atau provokatif yang memicu emosi publik tanpa membaca penjelasan lengkap di kolom keterangan. Akibatnya, masyarakat rentan terjebak dalam kesimpulan yang keliru dan bereaksi secara impulsif terhadap suatu isu.

Kendati arus informasi di media sosial begitu masif, keberadaan media massa konvensional dan portal berita resmi dinilai tetap memegang peranan kunci yang tak tergantikan. Keunggulan utama dari produk jurnalistik terletak pada proses verifikasi, akurasi data, serta pertanggungjawaban redaksional yang jelas. Dalam menjawab pertanyaan apakah berita kini dicari atau datang sendiri, Mario menegaskan bahwa kedua proses tersebut sebenarnya berjalan secara berdampingan. "Jawabannya adalah keduanya. Pengguna tetap memiliki pilihan untuk menentukan algoritma melalui konten yang disukai dan diikuti, lalu algoritma menggunakan perilaku tersebut untuk menyajikan konten yang sesuai," jelas Mario.

Mengakhiri diskusi interaktif tersebut, para narasumber mengajak pendengar dan pengguna media sosial untuk lebih bijak serta kritis dalam memilah setiap informasi yang melintas di linimasa. Masyarakat diimbau untuk tidak cepat percaya pada satu sumber tunggal atau unggahan video singkat semata. "Walaupun media sosial membuat informasi gampang didapatkan, kita tetap harus hati-hati. Kita harus pintar-pintar mengolah dan memverifikasi informasi tersebut," tutur Mario menegaskan pentingnya literasi media di tengah derasnya arus informasi digital.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....