Kenapa "Berlangganan" Aplikasi Malah Boros?

  • 26 Mei 2026 14:32 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Pernahkah Anda sadar bahwa sekarang hampir semua hal harus dibayar lewat langganan bulanan? Mulai dari aplikasi di HP, layanan film, hingga alat-alat rumah tangga seperti printer, semuanya minta "jatah" uang kita setiap bulan. Sekilas memang terlihat praktis dan murah, tapi kalau diteliti lebih jauh, sistem ini sebenarnya bisa bikin kita jauh lebih boros dibandingkan membeli barangnya langsung.

Laporan dari Business Insider melalui unggahan di kanal youtube menyoroti bahwa banyak perusahaan sengaja membuat sistem langganan agar kita terjebak dalam komitmen jangka panjang. Misalnya, saat Anda menyewa printer atau perangkat elektronik, biaya bulanannya mungkin terkesan kecil. Namun, jika dihitung total selama dua tahun, jumlah uang yang keluar ternyata jauh lebih mahal hingga lebih dari 20 persen, bahkan berkali-kali lipat dari harga beli aslinya. Yang mengesalkanl, setelah masa langganannya selesai, barang tersebut tetap bukan milik kita.

"Perusahaan sekarang lebih mementingkan keuntungan mereka sendiri daripada memberikan nilai lebih kepada pelanggan. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi malah bikin kita merasa terjebak dan kesal," ujar James Cuda, pengusaha di balik aplikasi Procreate. Dia memilih untuk tetap menjual aplikasinya sekali bayar saja karena percaya bahwa pelanggan berhak memiliki kendali penuh atas apa yang mereka beli, tanpa harus merasa "dipalak" setiap bulan.

Masalah lainnya adalah trik yang sering dipakai perusahaan untuk menyulitkan kita saat ingin berhenti berlangganan. Banyak situs web dirancang agar mudah saat kita mendaftar, tapi sengaja dibuat rumit dan berbelit-belit saat kita ingin membatalkan layanan. Akibatnya, banyak dari kita akhirnya tetap membayar biaya bulanan untuk aplikasi atau layanan yang sebenarnya sudah tidak pernah dipakai lagi.

Meski begitu, tidak semua orang pasrah dengan keadaan. Sekarang mulai muncul tren di mana orang-orang kembali melirik barang-barang fisik, seperti piring hitam, DVD, atau kaset permainan video. Memiliki barang secara fisik bukan cuma soal nostalgia, tapi soal kebebasan karena barang tersebut benar-benar jadi milik kita dan tidak bisa diambil kapan saja oleh perusahaan. "Penting bagi kita untuk menjaga dan menikmati hal-hal yang kita sukai secara nyata," kata salah satu pemilik toko koleksi fisik yang mencoba melawan arus serba digital.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kuncinya adalah menjadi konsumen yang lebih teliti. Sebelum menekan tombol "langganan" atau subscribe, coba hitung kembali apakah biaya tersebut sepadan dengan manfaatnya. Jangan tergiur kemudahan di awal jika akhirnya justru membuat kita rugi di masa depan. Menjaga hak milik kita sendiri adalah cara sederhana agar uang kita tetap aman dan tidak terus-menerus "bocor" untuk layanan yang sebenarnya bisa kita beli sendiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....