Belajar Al-Qur'an di Usia Senja, Rumah Tahfidz Gratis Ini Jadi Pelita Lansia
- 01 Agt 2026 15:12 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Setiap Sabtu pagi, suasana di sebuah bangunan sederhana di Dusun Krajan I, Desa Tegalsari, Banyuwangi, berbeda dari kebanyakan taman pendidikan Al-Qur'an. Bukan anak-anak berseragam yang memenuhi ruangan, melainkan puluhan perempuan berambut memutih yang datang membawa mushaf Al-Qur'an di tangan.
Mereka duduk melingkar, mengeja huruf demi huruf, memperbaiki makhraj, lalu mengulang ayat-ayat suci dengan penuh kesabaran. Usia yang telah melewati setengah abad tidak menghalangi semangat mereka untuk belajar. Di tempat itu, tidak ada kata terlambat mengenal Al-Qur'an.
Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali menjadi ruang belajar bagi para perempuan lanjut usia yang selama puluhan tahun memendam keinginan untuk bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. Seluruh layanan diberikan secara cuma-cuma, mulai dari proses belajar, pendampingan guru, hingga konsumsi para santri.
Rumah Tahfidz tersebut berdiri pada 11 September 2022 di atas lahan sekitar 600 meter persegi. Gagasannya lahir dari almarhumah Hj. Sayyidah yang ingin menghadirkan tempat mengaji bagi perempuan seusianya.
Ketua Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, Lukman Hakim, menuturkan, keinginan itu muncul karena saat itu hampir seluruh TPQ lebih banyak diperuntukkan bagi anak-anak.
"Keinginan ini lahir karena memang belum pernah ada tempat belajar mengaji untuk orang yang berumur di atas 50 tahun. Rata-rata TPQ untuk anak-anak," ujar Lukman, Sabtu 1 Agustus 2026.
Awalnya hanya lima orang yang datang belajar. Mereka adalah teman dan tetangga dekat almarhumah Hj. Sayyidah. Namun dari mulut ke mulut, kabar tentang rumah tahfidz tersebut terus menyebar.
Empat tahun berselang, jumlah santri lansia meningkat menjadi 96 orang. Mereka datang tidak hanya dari Desa Tegalsari, tetapi juga dari desa hingga kecamatan lain di Banyuwangi. Usia para santri berkisar antara 50 hingga lebih dari 70 tahun.
Sementara itu, kelas anak-anak juga berkembang pesat dengan jumlah 154 santri. Sebanyak 13 tenaga pendidik mendampingi proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari bagi santri anak, sedangkan kelas lansia digelar setiap Sabtu pagi.
Yang menarik, proses belajar disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Para santri dibagi menjadi tiga kelompok, mulai dari yang sama sekali belum mampu membaca Al-Qur'an hingga yang telah lancar membaca bahkan menghafalnya.
Pengelola sekaligus ustazah Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali, Nuryatul Mardliyah, mengatakan sebagian besar santri awalnya hanya ingin belajar membaca Al-Qur'an. Namun seiring waktu, banyak di antara mereka yang mulai menghafal ayat demi ayat.
"Awalnya santri-santri tersebut hanya mengaji saja. Tapi lama-kelamaan akhirnya mereka tertarik menjadi penghafal Al-Qur'an," katanya.
Semangat belajar itu juga dirasakan Nafiah Huda, 78 tahun. Ia merupakan salah satu santri pertama yang bergabung sejak rumah tahfidz berdiri. Saat pertama datang, membaca Al-Qur'an masih menjadi tantangan baginya.
Kini, perlahan-lahan, ayat demi ayat dapat ia lantunkan dengan lebih fasih. Baginya, belajar Al-Qur'an bukan lagi sekadar aktivitas mingguan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang ingin terus dijalani.
"Alhamdulillah sekarang sudah semakin lancar," ucap Nafiah.
Perempuan sepuh itu mengaku tak pernah merasa bosan datang mengaji setiap pekan. Justru ia berharap dapat terus belajar hingga akhir hayat.
"Saya tidak ingin berhenti, ingin terus mengaji sampai akhir hayat," katanya.
Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali tidak hanya menjadi tempat belajar agama. Para santri juga rutin mengikuti pemeriksaan kesehatan, medical check up setiap tiga bulan, hingga senam bersama melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Ikatan sosial di antara para santri pun tumbuh semakin erat. Saat salah seorang keluarga santri meninggal dunia, mereka bersama-sama datang bertakziah dan menggelar khataman Al-Qur'an tanpa diminta. Tradisi itu menjadi wujud kepedulian sekaligus memperkuat persaudaraan di antara mereka.
Keberadaan Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali akhirnya diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, rumah tahfidz tersebut membuktikan bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi usia. Belajar Al-Qur'an dapat dimulai kapan saja, bahkan ketika rambut telah memutih.
"Jangan merasa malu untuk belajar. Usia berapa pun jangan malu belajar," ujar Akhmad Sruji.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....