KPR BTN dan Keberanian Gen Z Memilih Rumah daripada Gaya Hidup
- 25 Feb 2026 21:47 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Di usia 25 tahun, ketika sebagian anak muda masih menikmati hidup berpindah kos dan belum terpikir membeli rumah, Hendra Prasetyawan justru memutuskan untuk mengambil cicilan KPR.
Pilihan itu memang tidak lazim di antara teman-temannya. Namun bagi Hendra, rumah bukan perkara gaya hidup. Ia hanya tidak ingin terus-menerus membayar sewa tanpa kepastian.
Perantau asal Cilacap itu sudah dua tahun bekerja di Kabupaten Jember dengan penghasilan sekitar Rp7 juta per bulan. Selama itu, ia tinggal di kamar kos seharga Rp1 juta.
Sebenarnya, rumah warisan sudah ada di kampung halamannya. Namun Hendra tetap memilih mengambil KPR di Jember. Ia ingin memiliki rumah yang benar-benar ia dapatkan dari hasil kerjanya sendiri.
“Sebetulnya ada rumah orang tua di kampung. Tapi saya ingin juga punya rumah dari hasil keringat sendiri,” ujarnya.
Keinginan itu sudah muncul sejak ia lulus kuliah. Sejak awal bekerja, ia mulai mencari informasi, menimbang kemampuan finansial, dan menunggu waktu yang dirasa tepat.
Hingga suatu malam, ia mencoba menghitung ulang pengeluarannya. Dari situ ia menyadari satu hal sederhana, selisih antara biaya kos dan cicilan rumah ternyata tidak terpaut jauh.
“Bayar kos sama harga nyicil rumah itu hampir sama. Ya kalau menurutku mending ambil rumah sih. Jadi uangnya nggak hilang gitu kan. Bisa jadi barang atau aset,” katanya, Rabu (25/2/2026).
Agustus 2024 menjadi titik balik. Ia mengambil rumah subsidi seharga sekitar Rp160 juta dengan tenor 12 tahun. Tanpa uang muka. Cicilan Rp1,3 juta per bulan, sekitar 18 persen dari penghasilannya.
Keputusan itu tidak diambil tergesa-gesa. Ia menghitung rasio cicilan terhadap gaji, mempertimbangkan lokasi, hingga memikirkan kemungkinan rumah itu disewakan jika suatu saat harus pindah kerja.
Bagi Hendra, membeli rumah adalah keputusan finansial yang harus dihitung matang.
“Kalau ditunda terus, harganya makin naik. Saya pikir lebih baik cicil sekarang daripada nanti makin berat,” ujarnya.
Narasi populer kerap menggambarkan Generasi Z sebagai generasi instan dan konsumtif. Namun data dari Dimas Mochtar Mandala, Sub Branch Head BTN KCP Unej menunjukkan realitas yang lebih beragam.
Sepanjang 2025, penyaluran KPR di wilayah Jember, Lumajang, dan Bondowoso mencapai sekitar 1.900 unit. Sekitar 90 persen merupakan KPR subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Tahun ini, target penyaluran meningkat menjadi 2.270 unit. Adapun harga rumah subsidi di Jember berada di batas maksimal Rp166 juta, tenor rata-rata 20 tahun, dan cicilan berkisar Rp1.070.000 per bulan.
Namun dari ribuan debitur tersebut, porsi Generasi Z masih di angka sekitar 5 persen. “Kalau KPR sebenernya lumayan banyak. Tapi mayoritas masih milenial ya. Kalau Gen Z belum terlalu banyak,” ujar Dimas.
Angka itu menunjukkan bahwa akses pembiayaan memang terbuka. Tetapi keberanian untuk mengambil komitmen jangka panjang di usia muda belum merata.
Menurut Dimas, cicilan rutin justru sering mengubah perilaku finansial nasabah. Ketika ada kewajiban tetap setiap bulan, pengeluaran menjadi lebih terkontrol.
Untuk KPR subsidi, keputusan kredit bisa terbit dalam tiga hari jika dokumen lengkap. Bagi pekerja informal, bank akan melakukan kunjungan lapangan untuk memastikan usaha berjalan aktif.
“Kalau untuk pekerja informal, nanti dilakukan kunjungan lapangan gitu. Jadi itu untuk memastikan kalau usahanya sesuai dan masih berjalan aktif atau tidak,” kata dia.
Tantangan Struktural
Proses pengajuan juga telah terdigitalisasi melalui aplikasi BTN Property, yang memungkinkan simulasi kredit hingga unggah dokumen secara daring.
Meski demikian, sebagian masyarakat masih memilih pendampingan langsung. Di sisi lain, tantangan struktural tetap ada.
Isu tata ruang dan pembatasan alih fungsi lahan sawah (LSD) memengaruhi pengembangan perumahan baru. Artinya, persoalan kepemilikan rumah bukan semata soal kemampuan membeli, tetapi juga kebijakan ruang dan ketersediaan lahan.
Secara nasional, persoalan ini berkaitan dengan backlog perumahan yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Generasi muda berada di garis depan persoalan ini, mereka membutuhkan hunian. Tapi juga menghadapi kenaikan harga properti dan ketidakpastian ekonomi.
Di tingkat nasional, peran BTN dalam pembiayaan perumahan rakyat tidak kecil. Hingga Desember 2025, bank ini telah menyalurkan sekitar 5,68 juta unit KPR sejak pertama kali menjalankan program tersebut hampir lima dekade lalu.
Dari jumlah itu, sekitar 4,38 juta unit merupakan KPR subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Dominasi tersebut juga terlihat dalam penyaluran FLPP. Pada 2025, BTN menguasai sekitar 70 persen penyaluran KPR subsidi nasional. Pemerintah bahkan meningkatkan kuota FLPP menjadi 350 ribu unit, dengan BTN sebagai penyalur utama.
Dukungan terhadap program Tiga Juta Rumah yang dicanangkan pemerintah pun tercermin dari penyaluran pembiayaan subsidi yang mencapai puluhan triliun rupiah dalam setahun terakhir.
Di tengah skala besar pembiayaan nasional itu, muncul wajah-wajah muda seperti Hendra.
Jika dulu KPR identik dengan pasangan mapan usia 30–40 tahun, kini sebagian generasi Z mulai berani mengambil komitmen jangka panjang lebih awal.
Mereka sadar, harga properti cenderung naik, sementara menunda berarti menambah beban di masa depan.
Risikonya tetap ada, seperti gaji awal karier yang belum tinggi, status kerja yang belum tetap, hingga godaan konsumsi. Namun bagi Hendra, rumah menghadirkan rasa tenang.
Perubahan paling terasa bukan pada angka di rekening, melainkan pada rasa memiliki. Saat masih ngekos, hidupnya lebih individual. Kini ia punya tetangga, ikut ronda, dan bisa menerima keluarga menginap.
Di awal cicilan, ia sempat khawatir. Dua belas tahun bukan waktu singkat. Namun hampir dua tahun berjalan, cicilan itu menjadi rutinitas.
“Kalau ada kesempatan dan gaji cukup, ambil saja. Tapi tetap dihitung matang,” katanya.
Jika hanya 5 persen Gen Z yang menjadi debitur KPR di wilayah ini, maka Hendra adalah bagian dari minoritas itu.
Minoritas yang memberi sinyal bahwa generasi muda tidak selalu identik dengan konsumsi jangka pendek.
Sebagian dari mereka mulai memikirkan aset. Sebagian mulai menukar fleksibilitas dengan stabilitas. Sebagian mulai berani mengikat diri pada masa depan.
Hendra tidak sekadar mencicil rumah. Ia sedang membangun pijakan untuk masa depannya.