Saat Warga Menjadi Kerbau, Merawat Warisan Keboan Aliyan

  • 23 Jun 2026 01:33 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi- Suara gamelan terdengar bersahut-sahutan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Minggu, 21 Juni 2026. Ribuan pasang mata tertuju pada sekelompok warga yang tiba-tiba bertingkah layaknya kerbau. Mereka mendengus, merangkak di tanah, bahkan sebagian berlari menuju kubangan lumpur sawah.

Pemandangan yang mungkin terasa ganjil bagi orang luar itu justru menjadi bagian penting dari Tradisi Keboan Aliyan, sebuah ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat desa setempat.

Setiap memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, warga Aliyan berkumpul untuk menggelar tradisi yang sarat makna tersebut. Bagi mereka, Keboan bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan ungkapan syukur atas hasil bumi sekaligus doa agar desa senantiasa diberi keselamatan dan kemakmuran.

Sejak pagi hari, suasana sakral sudah terasa di berbagai sudut desa. Warga menggelar selamatan kampung di empat penjuru wilayah. Aneka hasil panen ditata rapi sebagai simbol keberlimpahan rezeki yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Tak lama setelah doa-doa dipanjatkan, suasana berubah. Beberapa warga mulai mengalami trance atau kerasukan. Perlahan mereka kehilangan kesadaran dan bergerak layaknya kerbau yang sedang bekerja di sawah.

Tubuh mereka berguling di tanah, sesekali mengeluarkan suara dengusan. Ada yang berjalan merangkak, ada pula yang berendam di lumpur. Di tengah kerumunan warga dan wisatawan, prosesi itu berlangsung tanpa rekayasa, sebagaimana yang telah dilakukan leluhur mereka selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Prosesi kemudian berlanjut dengan ritual Ider Bumi. Para peserta yang mengalami trance diarak mengelilingi desa melewati empat penjuru mata angin. Sepanjang perjalanan, mereka memperagakan berbagai tahapan kehidupan petani, mulai dari membajak sawah, mengairi lahan, hingga menanam benih padi.

Ritual tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat Aliyan lahir dan tumbuh dari budaya agraris. Kerbau yang menjadi simbol utama tradisi ini merupakan sahabat petani yang sejak dahulu membantu mengolah lahan pertanian.

Kepala Desa Aliyan Agus Nurbani Yusuf mengatakan Tradisi Keboan memiliki peran penting dalam menjaga persatuan masyarakat desa.

“Tradisi Keboan ini merupakan sarana kami untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan adat, masyarakat kami di Aliyan bisa bersatu membangun dan menjaga desa bersama,” ujar Agus, Minggu 21 Juni 2026.

Di balik kemeriahan yang tersaji, Keboan Aliyan sejatinya menyimpan pesan yang lebih dalam. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Nilai gotong royong juga terlihat jelas dalam setiap penyelenggaraannya. Hampir seluruh warga desa terlibat, mulai dari menyiapkan sesaji, menghias kampung, mengatur jalannya prosesi, hingga menyambut para tamu yang datang dari berbagai daerah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi Suratno yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi kekompakan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.

“Melihat sepanjang perjalanan, Desa Aliyan memanfaatkan hasil panen sebagai ornamen menuju tempat acara. Itu menjadi simbol pertanian dan hasil alam yang melimpah. Ini merupakan rasa syukur bahwa Desa Aliyan tetap aman, nyaman, dan tenteram,” tutur Suratno.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Tradisi Keboan Aliyan tetap bertahan sebagai identitas masyarakat setempat. Bukan hanya menjadi warisan budaya yang dijaga, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur.

Ketika para "kerbau manusia" itu kembali sadar dan prosesi berakhir menjelang sore, pesan yang ditinggalkan tetap sama. Bahwa rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam adalah warisan yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....