Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe Tetap Pakai Kedelai Impor
- 15 Apr 2026 10:24 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso - Pedagang tempe di Bondowoso kembali menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga kedelai dan plastik dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu faktor global, termasuk dampak konflik Iran-Amerika-Israel, sehingga memengaruhi harga bahan baku.
Pemilik usaha tempe Fatimah di Desa Jambesari, Kecamatan Jambesari Darussalam, Mohammad Fauzi, mengatakan harga kedelai mengalami kenaikan bertahap dari Rp8.000 menjadi Rp10.650 hingga Rp11.000 per kilogram.
"Sebelum Ramadan itu Rp8.000, sekarang menjadi Rp10.650 ada yang Rp11.000 per kilogram," ungkap Fauzi.
Ia mengaku tetap menggunakan kedelai impor karena dinilai lebih bersih, meski selisih harga dengan kedelai lokal hanya sekitar Rp1.000. Menurutnya, kenaikan harga tersebut diduga berkaitan dengan situasi konflik global.
"Kenaikan katanya imbas dari perang," ujarnya.
Selain kedelai, harga plastik sebagai bahan kemasan juga melonjak signifikan, dari Rp17.000 menjadi Rp27.000 per rol. Kondisi ini dinilai mengubah struktur biaya produksi secara keseluruhan.
"Naiknya jauh, sebenarnya ini mengubah struktur harga," tuturnya.
Fauzi mengaku sempat mempertimbangkan penggunaan daun sebagai alternatif pembungkus. Namun, opsi tersebut masih dikaji karena menyangkut ketersediaan bahan baku, tambahan biaya, serta kebutuhan tenaga kerja baru.
"Mau tidak mau, mungkin nanti beralih menggunakan daun," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Fauzi memilih bertahan tanpa mengurangi jumlah pekerja yang saat ini berjumlah lima orang. Ia juga tidak menaikkan harga jual tempe demi menjaga daya beli pelanggan.
Sebagai strategi, ia mengurangi volume kedelai dalam setiap kemasan. Dampaknya, produksi harian turun dari 1 kuintal menjadi 75 kilogram.
"Produksi kami menurun, yang tadinya 1 kuintal sekarang menjadi 75 kilogram per hari. Harga jual tetap, tapi bahan baku dikurangi. Otomatis omzet berkurang," jelasnya.
Harga tempe produksinya saat ini berkisar antara Rp2.000 hingga Rp15.000. Selain dijual ke pasar, tempe tersebut juga dipasok untuk kebutuhan dapur SPPG di wilayah Jambesari.
Fauzi berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk membantu pelaku usaha kecil agar tidak semakin terdampak kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, pantauan di Pasar Induk Bondowoso menunjukkan harga tempe di tingkat pedagang masih relatif stabil. Mayoritas produk masih menggunakan kemasan plastik, dan hanya satu merek yang terpantau menggunakan pembungkus daun pisang sepenuhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....