Diskoperindag Bondowoso Siapkan Solusi untuk Pengusaha Tape Terdampak Kelangka
- 01 Jun 2026 15:56 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso bergerak cepat merespons keluhan pengusaha tape yang terdampak kelangkaan bahan baku singkong. Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah di Sentra Industri Tape Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal, dilaporkan mengurangi produksi akibat melonjaknya harga singkong dalam sebulan terakhir.
Untuk mengetahui kondisi di lapangan, Diskoperindag turun langsung menemui para pengusaha tape di Kecamatan Binakal. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa persoalan utama yang dihadapi para pelaku usaha bukan hanya sulitnya memperoleh bahan baku, tetapi juga keterbatasan modal kerja.
Kepala Diskoperindag Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, mengatakan pihaknya menemukan sebagian besar pengusaha tape mengalami tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga singkong yang cukup signifikan.
“Berdasarkan hasil peninjauan, ternyata permasalahan utamanya adalah permodalan,” kata Hergiar.
Menurutnya, ketersediaan singkong saat ini memang terbatas sehingga memicu kenaikan harga dari sekitar Rp2.000 menjadi Rp4.500 per kilogram. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat dan tidak sebanding dengan harga jual tape di pasaran.
Meski demikian, Hergiar menegaskan tidak semua pengusaha tape mengurangi produksi. Beberapa pelaku usaha yang memiliki modal cukup masih mampu mempertahankan kapasitas produksinya.
Sebagai langkah tindak lanjut, Diskoperindag berkomitmen menjembatani para pengusaha tape dengan pihak perbankan agar memperoleh akses pembiayaan yang lebih mudah. Selain itu, pemerintah daerah juga akan memberikan pendampingan menyeluruh mulai dari proses produksi hingga pemasaran.
“Kami akan mendampingi sampai permasalahan ini benar-benar bisa diatasi. Walaupun dalam prosesnya, kita harus memberikan pendampingan total dari hulu hingga ke hilir,” ujarnya.
Pendampingan tersebut meliputi peningkatan kualitas produksi, perbaikan kemasan, hingga strategi pemasaran produk. Menurut Hergiar, kemasan tape yang saat ini digunakan sebagian besar pelaku usaha masih tergolong tradisional sehingga perlu ditingkatkan agar memiliki daya saing lebih baik.
Ia menjelaskan, Bondowoso memiliki dua sentra produksi tape utama, yakni di Kecamatan Binakal dan Kecamatan Wringin. Namun, pasokan singkong di Kecamatan Wringin hingga kini masih relatif aman dibandingkan dengan kondisi di Binakal.
Kelangkaan singkong di Bondowoso dipicu berkurangnya luas lahan tanaman singkong karena banyak petani beralih menanam komoditas lain seperti tebu, jagung, sengon, dan kedelai. Akibatnya, pasokan bahan baku menyusut dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha tape, terutama di Sentra Industri Tape Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal.
Melalui upaya pendampingan dan fasilitasi akses permodalan tersebut, Diskoperindag berharap pelaku usaha tape dapat kembali meningkatkan produksi serta menjaga keberlangsungan salah satu produk unggulan khas Bondowoso itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....