BEC 2026 Gerakkan Ekonomi Kreatif Desainer Banyuwangi

  • 17 Jun 2026 09:49 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi - Gelaran tahunan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 tidak hanya menjadi panggung promosi budaya daerah, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat. Menjelang pelaksanaan BEC pada Juli mendatang, para desainer kostum dan pengrajin lokal mulai kebanjiran pesanan.

Tingginya permintaan pembuatan kostum karnaval menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan berbagai pelaku usaha kreatif, mulai dari desainer, pengrajin ukir, penjahit, hingga pemasok bahan baku.

Salah satu desainer Banyuwangi, Bubu Ramadhan, mengaku saat ini tengah mengerjakan 11 kostum untuk peserta BEC 2026. Sementara desainer lainnya, Rony Sanjaya dari Desa Aliyan, menggarap 4 kostum, dan Heru Saputra dari Desa Bomo menyelesaikan 3 kostum.

Dengan nilai produksi setiap kostum berkisar Rp10 juta hingga Rp20 juta, ajang BEC menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi pelaku ekonomi kreatif lokal.

“BEC merupakan wadah kreativitas bagi para seniman untuk menuangkan kreasinya karena setiap tahun tema yang diusung selalu berbeda. Di samping menjadi kebanggaan seni, momentum ini jelas menjadi ladang penghasilan yang sangat menjanjikan bagi kami,” ujar Bubu, Rabu 17 Juni 2026.

Menurutnya, setiap penyelenggaraan BEC selalu menghadirkan tantangan baru dalam proses kreatif. Para desainer dituntut mampu menerjemahkan tema yang diangkat menjadi karya kostum yang artistik sekaligus memiliki nilai budaya.

Hal senada disampaikan Rony Sanjaya. Ia menilai BEC menjadi ruang bagi para kreator lokal untuk menunjukkan kualitas karya kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan yang datang ke Banyuwangi.

“BEC adalah waktu bagi seniman untuk menunjukkan kualitas, detail, dan orisinalitas karya terbaik Banyuwangi kepada dunia,” kata Rony.

Dampak ekonomi BEC tidak hanya dirasakan para desainer. Dalam proses pembuatannya, mereka melibatkan sejumlah pengrajin lokal untuk mengerjakan berbagai ornamen kostum seperti sayap, mahkota, hingga ukiran dekoratif.

Sutik, pengrajin ukiran asal Kampung Melayu Banyuwangi, mengaku ikut merasakan manfaat ekonomi dari meningkatnya pesanan menjelang BEC.

“Di sini kami biasa mengerjakan sayap dan mahkota kostum. Selain menjadi tambahan penghasilan, saya juga bangga karena bisa ikut berkontribusi untuk Banyuwangi,” ujar Sutik.

Keterlibatan berbagai pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa BEC telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif daerah. Selain menghadirkan pertunjukan budaya, event ini juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.

BEC 2026 akan digelar pada 17-19 Juli 2026 dengan mengusung tema “Perang Bayu: The Great War of Blambangan”. Tema tersebut mengangkat kisah heroik perjuangan rakyat Blambangan dalam Perang Bayu yang menjadi bagian penting sejarah Banyuwangi.

Melalui penyelenggaraan BEC, Banyuwangi tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang melibatkan pelaku usaha dari berbagai sektor.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....