Era Digital Membuat Orang Mudah Bicara, tetapi Minim Mendengar
- 16 Sep 2026 16:27 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Perkembangan teknologi komunikasi membuat setiap orang semakin mudah menyampaikan pendapat. Namun, kemudahan berbicara di ruang digital juga menghadirkan tantangan lain, yakni berkurangnya kemauan untuk mendengarkan dan memahami orang lain.
Penyuluh Islam KUA Jenggawah, Jember, Faridatul Gufroniah, S.Ag., M.Pd., memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang tetap perlu disertai tanggung jawab dan kesadaran terhadap aturan serta dampak dari setiap tindakan.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan kehidupan bermasyarakat, termasuk cara seseorang menggunakan kebebasan berbicara di ruang publik dan media sosial.
“Berarti ini kita lebih mengevaluasi diri untuk senantiasa mari kita saling merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga kita mengurangi bicara dan lebih banyak merasa,” ujar Ustazah Faridatul dalam program Mutiara Pagi Pro 1 Jember, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia menyebut masyarakat saat ini berada dalam kondisi yang semakin bising, terutama akibat derasnya arus informasi di media sosial. Setiap orang memiliki ruang untuk berkomentar, menyampaikan pendapat, maupun membagikan informasi.
Persoalannya, kebebasan tersebut tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang cukup terhadap persoalan yang sedang dibicarakan. Akibatnya, seseorang dapat dengan mudah menghakimi atau menyalahkan orang lain hanya berdasarkan informasi yang terbatas.
“Era bising banyak bicara adalah kondisi saat semua orang bebas bersuara namun seringkali mengabaikan makna,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah dampak dari kebisingan informasi di media sosial. Pertama, hilangnya makna karena pesan yang penting dapat tenggelam di tengah banyaknya opini. Kedua, munculnya krisis empati karena orang lebih sibuk membalas daripada memahami perasaan orang lain. Ketiga, munculnya kondisi ketika setiap orang merasa ahli dalam berbagai hal meskipun tidak memiliki dasar pengetahuan yang memadai.
Ustazah Faridatul kemudian mengingatkan pentingnya kehati-hatian sebelum menyampaikan sesuatu. Ia mengutip Surat Al-Isra ayat 36 yang mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui dan bahwa pendengaran, penglihatan, serta hati nurani akan dimintai pertanggungjawaban.
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya,” tuturnya.
Pesan tersebut, menurutnya, relevan dengan kebiasaan masyarakat saat ini yang mudah memberikan komentar terhadap suatu peristiwa tanpa mengetahui konteks secara utuh.
Kebiasaan terburu-buru mengambil kesimpulan tidak hanya terjadi di media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga dapat lebih sibuk menyiapkan jawaban daripada benar-benar mendengarkan lawan bicara.
Ketika seseorang sedang bercerita, misalnya, pendengar terkadang justru memikirkan respons yang akan diberikan. Begitu pula ketika seseorang menyampaikan pendapat, perhatian dapat bergeser untuk mencari kelemahan dari pendapat tersebut.
“Dalam sebuah percakapan kita seringkali tidak benar-benar mendengar, kita hanya menunggu giliran bicara,” kata Ustazah Faridatul.
Ia menilai kondisi tersebut semakin terasa ketika seseorang sedang mencurahkan persoalan pribadi. Tidak semua orang yang bercerita membutuhkan nasihat. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.
“Ketika orang curhat atau membutuhkan saran dari kita, kita justru tidak mendengarkan tapi justru terburu-buru memberikan nasihat. Padahal mereka sebenarnya ingin hanya didengar,” ungkapnya.
Karena itu, kemampuan mendengarkan perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat. Mendengarkan bukan sekadar menerima suara secara fisik, tetapi berusaha memahami konteks dan perasaan orang lain.
Ustazah Faridatul juga mengingatkan bahwa teknologi memang membuat manusia dapat terhubung dengan lebih banyak orang dalam waktu singkat. Namun, koneksi tersebut belum tentu membuat seseorang benar-benar memahami orang lain.
“Kita dapat mengirim pesan dalam hitungan detik tetapi membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk benar-benar memahami seseorang,” ujarnya.
Melalui tema tersebut, ia mengajak masyarakat untuk lebih banyak melakukan introspeksi sebelum berbicara, berkomentar, maupun membagikan sesuatu di ruang digital. Kesadaran setiap individu dinilai dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap terciptanya kehidupan sosial yang damai dan harmonis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....