Orang Berilmu Memiliki Kemuliaan dan Peran untuk Membantu Sesama
- 31 Agt 2026 20:29 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Ilmu pengetahuan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Selain menjadi bekal untuk menjalani kehidupan, ilmu juga menjadi pembeda antara seseorang yang memiliki pengetahuan dengan mereka yang belum memilikinya. Dalam perspektif Islam, orang berilmu juga memiliki kemuliaan karena pengetahuannya dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Jember, Ustadz Abdur Rofiq, S.Th.I., menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk saling membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Menurutnya, orang yang memiliki pengetahuan tidak seharusnya menyimpan ilmu hanya untuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki semestinya dapat digunakan untuk membantu mereka yang masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan pemahaman.
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia di muka bumi ini saling membantu antara satu ke satunya. Dari yang kuat ke yang lemah; yang kuat membantu yang lemah. Dari yang punya pengetahuan, yang punya pengertian, paling tidak bisa membantu juga kepada orang yang masih belum punya pengetahuan,” ujar Ustadz Abdur dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 Jember, Selasa, 14 April 2026.
Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, “Qul hal yastawilladhina ya'lamuna walladhina la ya'lamun,” yang mempertanyakan orang yang mengetahui dapat disamakan dengan orang yang tidak mengetahui.
Ustadz Abdur menjelaskan bahwa ilmu dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan. Seseorang yang ingin memperoleh keberhasilan dalam urusan dunia maupun akhirat sama-sama membutuhkan pengetahuan sebagai landasan.
Menurutnya, ilmu tidak hanya diperlukan oleh mereka yang bekerja di bidang akademik atau pendidikan. Pedagang membutuhkan ilmu dalam menjalankan usahanya, petani membutuhkan pengetahuan dalam mengelola pertanian, guru membutuhkan ilmu untuk mengajar, begitu pula seseorang yang berdakwah membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan memiliki dasar yang benar.
Hal yang sama berlaku dalam menjalankan ibadah. Ustadz Abdur mencontohkan ibadah salat yang membutuhkan pengetahuan agar seseorang mengetahui tata cara, bacaan, serta ketentuan yang benar.
“Kalau tidak dengan ilmu, maka dalam shalatnya, sah dan tidaknya, benar dan tidaknya, bisa jadi fatal, bisa jadi batal karena dengan ketidaktahuan dalam ilmu tentang shalat tersebut,” jelasnya.
Ia juga menggambarkan kedudukan orang berilmu melalui sebuah perumpamaan bahwa orang alim seperti bulan purnama, sedangkan orang lain diibaratkan seperti bintang-bintang. Bulan yang jumlahnya satu dapat memberikan cahaya yang lebih luas dibandingkan bintang yang jumlahnya banyak.
Ustadz Abdur mengutip hadis, “Fadhlul 'alimi 'alal 'abidi ka fadhlil qamari 'ala sa'iril kawakib,” yang menggambarkan keutamaan orang berilmu dibandingkan ahli ibadah selaras dengan keutamaan bulan terhadap seluruh bintang.
Namun, menurutnya, memiliki ilmu saja belum cukup. Ilmu perlu dipelajari, diamalkan, dan dimanfaatkan untuk memberikan kebaikan. Karena itu, seseorang yang belum memiliki pengetahuan tetap memiliki kesempatan untuk belajar.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti dalam proses mencari ilmu. Menjadi orang berilmu, menjadi pembelajar, menjadi pendengar yang baik, maupun mencintai ilmu dan kebaikan merupakan bagian dari proses yang harus terus dijalani.
“Untuk menuntut ilmu adalah tidak mengenal batas. Nabi juga menyampaikan: Utlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi. Kapan pun dan di mana pun kita bisa untuk menuntut ilmu,” kata Ustadz Abdur.
Dengan demikian, ilmu tidak hanya menjadi ukuran kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu, tetapi juga menjadi sarana untuk memberikan manfaat kepada lingkungan. Kemuliaan orang berilmu, menurut Rofiq, tidak terletak semata-mata pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, melainkan pada bagaimana ilmu tersebut digunakan secara tepat dan memberikan manfaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....