Efektivitas Taman Baca Hijau dalam Membangun Budaya Literasi
- 31 Jul 2026 16:37 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Kehadiran ruang baca berbasis eduwisata dinilai mampu menjadi salah satu strategi efektif dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Konsep yang memadukan aktivitas rekreasi dan edukasi tersebut diyakini dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda. Hal itu mengemuka dalam dialog Jember Menyapa Pro 1 RRI Jember bertajuk “Efektivitas Budaya Baca Lewat Taman Baca Hijau” yang disiarkan pada Rabu 29 Juli 2026.
Pegiat Komunitas Literasi Situbondo, Mohammad Imron, mengatakan bahwa taman baca dengan konsep eduwisata memiliki nilai lebih dibandingkan ruang baca konvensional karena mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan dekat dengan lingkungan sekitar.
“Tentu saya sangat apresiasi dan mendukung dengan adanya ruang membaca yang berbasis eduwisata. Selain berwisata, kita dapat pengetahuan baru yang berbasis lingkungan sekitar,” ujarnya.
| Baca juga: Mesin Pencacah Hijauan Hidupkan Perekonomian |
Menurut Imron, keberadaan ruang baca terbuka dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan sekaligus menikmati suasana yang lebih santai. Pendekatan tersebut dinilai mampu mengurangi kesan bahwa membaca merupakan aktivitas yang membosankan atau hanya berkaitan dengan kewajiban akademis.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam membangun budaya baca saat ini adalah tingginya paparan teknologi digital dan media sosial yang kerap mengalihkan perhatian masyarakat dari kegiatan membaca.
“Kalau kita menggunakan medsos tidak teratur, sangat mengganggu. Terlalu berlebihan scroll, tiba-tiba konten ini, konten itu, akhirnya pikiran kita tidak bisa konsentrasi,” kata Imron.
Fenomena tersebut, lanjutnya, membuat kemampuan konsentrasi masyarakat untuk membaca buku maupun teks panjang semakin berkurang. Karena itu, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya minat baca.
Menurut Imron, keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan pertama yang memperkenalkan budaya literasi kepada anak. Selain itu, komunitas literasi juga perlu menghadirkan berbagai kegiatan kreatif agar masyarakat tertarik untuk membaca dan berkarya.
“Tugasnya itu membuat lingkungan kreatif, bagaimana literasi ini bisa nulis, bisa ngadain event, atau workshop,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan seperti pelatihan menulis, diskusi buku, hingga workshop kreatif dapat menjadi sarana untuk memperluas pemahaman masyarakat bahwa literasi tidak hanya terbatas pada membaca, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, menulis, dan berbagi pengetahuan.
Dalam dialog tersebut, Ketua Pelaksana Pengelola Taman Baca Hijau, Dyan, sejatinya dijadwalkan hadir sebagai narasumber utama. Namun hingga memasuki paruh akhir siaran, yang bersangkutan belum dapat bergabung karena mengalami kendala koneksi.
Meski demikian, diskusi tetap menyoroti pentingnya keberadaan taman baca sebagai ruang publik yang mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan budaya literasi.
Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan masyarakat diharapkan semakin kuat dalam mengembangkan ruang-ruang baca yang mudah diakses publik. Melalui pembiasaan membaca sejak dini serta dukungan lingkungan yang kondusif, budaya literasi diharapkan dapat tumbuh menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....