Mesin Pencacah Hijauan Hidupkan Perekonomian

  • 16 Feb 2026 04:59 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Pagi itu, suara mesin memecah kesunyian di sudut halaman warga Karangtengah. Tumpukan rumput dan dedaunan yang biasanya dibiarkan mengering kini masuk ke dalam corong besi, lalu keluar dalam potongan kecil yang rapi. Di sekelilingnya, para kader Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Karangtengah tersenyum bukan sekadar karena mesin baru, tetapi karena harapan baru yang sedang mereka nyalakan.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim dosen dari Universitas Muhammadiyah Jember menghadirkan mesin pencacah hijauan sebagai solusi atas persoalan klasik yang selama ini dihadapi warga: pakan ternak yang tersedia melimpah, tetapi belum terkelola secara efisien.

Karangtengah sejatinya kaya sumber daya hayati. Rumput liar tumbuh subur, daun-daunan dari kebun dan pekarangan mudah ditemukan, bahkan limbah organik rumah tangga tersedia setiap hari. Namun, proses pencacahan pakan yang masih manual membuat waktu dan tenaga terkuras. Akibatnya, produktivitas ternak kambing dan sapi sebagai sumber pendapatan tambahan belum optimal.

Di sinilah mesin pencacah hijauan mengambil peran. Dengan ukuran potongan yang seragam, pakan lebih mudah dikonsumsi ternak, meminimalkan limbah, sekaligus membuka peluang pengolahan lanjutan menjadi silase atau pakan fermentasi—cadangan penting saat musim kemarau tiba.

Ketua tim pengabdian, Hadi Jatmiko, S.ST.Par., M.Si., menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada serah terima alat. “Kami ingin teknologi ini benar-benar hidup di tangan masyarakat,” ujarnya Hadi Minggu, 15 Februari 2026.

Para kader PRA Karangtengah dibekali pelatihan operasional, perawatan mesin, hingga keselamatan kerja. Mereka juga didampingi menyusun standar operasional prosedur (SOP), membuat logbook produksi, dan merancang sistem iuran kelompok untuk biaya perawatan. Pendekatan ini membangun fondasi kelembagaan yang kuat—sebuah sistem yang menjaga mesin tetap berfungsi, sekaligus menjaga semangat kolektif tetap menyala.

Mahasiswa pun turut terlibat. Dari survei lapangan hingga pendampingan pelatihan dan monitoring program, keterlibatan mereka menjadi implementasi nyata Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kampus tidak lagi sekadar ruang kuliah, tetapi hadir sebagai mitra belajar masyarakat.

Lebih jauh, inisiatif ini membawa pesan tentang ekonomi hijau berbasis komunitas. Limbah organik yang sebelumnya terbuang kini bernilai. Proses produksi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. PRA Karangtengah tidak hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga membangun model usaha yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Di tengah isu perubahan iklim dan ketahanan pangan—tema yang kian relevan dalam berbagai diskursus akademik—langkah kecil di Karangtengah ini terasa bermakna. Dari rumput pekarangan, tumbuh kemandirian. Dari mesin sederhana, lahir sistem ekonomi yang lebih tertata.

Bagi Universitas Muhammadiyah Jember, program ini menjadi wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Namun bagi para kader PRA Karangtengah, ini lebih dari sekadar program—ini adalah investasi masa depan.

Sebab di setiap potongan hijauan yang keluar dari mesin itu, tersimpan harapan akan ternak yang lebih sehat, pendapatan yang meningkat, dan komunitas yang semakin berdaya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....