Clickbait Efektif Menarik Pembaca namun Harus Tetap Beretika

  • 27 Jul 2026 14:24 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Fenomena clickbait di media sosial muncul dan menjamur seiring ketatnya persaingan media dalam menarik perhatian pembaca. Judul yang dibuat sensasional dinilai mampu meningkatkan jumlah klik, namun jika tidak sesuai dengan isi berita justru dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media.

Slamet Hariyadi, perwakilan dari UKMPK Tegalboto Universitas Jember saat menjadi narasumber pada program Jaga Malam Pro 2 Jember edisi 9 Oktober 2025, menjelaskan bahwa clickbait merupakan strategi penyusunan judul atau tampilan konten yang dirancang untuk membangkitkan rasa penasaran pembaca agar tertarik membuka suatu berita. Namun, menurutnya, persoalan muncul ketika isi berita tidak sesuai dengan judul yang ditampilkan.

"Clickbait adalah judul atau tampilan konten yang dibuat secara sensasional untuk memancing rasa ingin tahu pembaca. Namun sering kali disertai janji informasi yang ternyata tidak sesuai dengan isi beritanya," ujar Slamet, Kamis (9/10/2025).

Ia menuturkan, praktik tersebut banyak digunakan karena setiap hari ribuan bahkan jutaan informasi bersaing di internet. Judul yang menarik dianggap menjadi pintu utama agar sebuah berita dilirik oleh pembaca.

Meski demikian, Slamet menegaskan clickbait tidak selalu bermakna negatif. Selama isi berita tetap relevan dengan judul, penggunaan clickbait masih dapat diterima sebagai strategi penyajian informasi.

"Kalau judul dan isi tetap relevan, itu bukan menipu. Yang menjadi masalah ketika judul dibuat heboh, tetapi isi beritanya biasa saja atau bahkan tidak sesuai," katanya.

Sementara itu, Faris Eka Pratama yang turut jadi bagian dari UKMPK Tegalboto, menjelaskan terdapat beberapa bentuk clickbait yang umum dijumpai di media digital. Di antaranya curiosity gap, yakni judul yang sengaja dibuat menggantung agar memancing rasa penasaran, serta judul sensasional yang menggunakan diksi dramatis untuk menarik perhatian pembaca.

Selain itu, clickbait juga kerap memanfaatkan daftar angka, seperti "5 Tips Lulus Kuliah" atau "7 Cara Menghemat Pengeluaran", yang banyak ditemukan di platform seperti YouTube maupun TikTok. Menurut Faris, kecenderungan masyarakat yang hanya membaca judul tanpa menelusuri isi berita turut membuat praktik clickbait semakin berkembang.

"Generasi sekarang sering membaca berita secara cepat. Mereka melihat judul terlebih dahulu, sehingga judul menjadi faktor yang sangat menentukan apakah berita itu akan dibuka atau tidak," ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, keduanya juga menyoroti dampak positif dan negatif clickbait. Dari sisi positif, judul yang menarik dapat meningkatkan jumlah pembaca serta mendorong masyarakat untuk memperhatikan isu-isu yang sebelumnya kurang diminati. Namun di sisi lain, clickbait yang berlebihan dapat menimbulkan rasa kecewa karena ekspektasi pembaca tidak sesuai dengan informasi yang diperoleh. Akibatnya, kepercayaan terhadap media bisa menurun.

Faris mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing hanya dari judul sebuah berita. Ia menyarankan pembaca membaca artikel hingga selesai dan membandingkan informasi dari berbagai media sebelum menarik kesimpulan.

"Jangan buru-buru percaya pada judul. Bacalah isi berita sampai selesai dan lakukan cross-check dengan sumber lain agar tidak mudah terjebak informasi yang menyesatkan," ujarnya.

Slamet menambahkan, clickbait belum tentu dapat dikategorikan sebagai bentuk misinformasi. Menurutnya, penilaian tersebut bergantung pada kesesuaian antara judul dan isi berita.

"Kalau judulnya masih sesuai dengan isi meskipun dibuat menarik, itu masih merupakan strategi penyajian informasi. Tetapi kalau judul dan isi berbeda jauh, baru bisa mengarah pada misinformasi," jelasnya.

Sebagai organisasi pers mahasiswa, UKMPK Tegalboto mengaku berupaya menyusun judul berita yang menarik tanpa mengorbankan akurasi informasi. Menurut Slamet, menjaga kepercayaan pembaca jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar jumlah klik atau pageview.

Ia berharap media dapat lebih bijak dalam menggunakan clickbait, sementara masyarakat juga terus meningkatkan literasi digital dengan membiasakan diri berpikir kritis sebelum mempercayai informasi yang beredar di media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....