Batasi Medsos Anak, Pola Asuh dan Keteladanan Jadi Kunci
- 23 Jun 2026 11:22 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Penggunaan media sosial yang semakin masif di kalangan anak dan remaja menjadi perhatian serius berbagai pihak. Hal tersebut mengemuka dalam dialog Jember Menyapa Pro 1 RRI Jember yang mengangkat tema "Pembatasan Medsos pada Anak", menghadirkan Psikolog Klinis RSUD Blambangan sekaligus Pendiri Yayasan Anmurti Banyuwangi, Betty Kumala, S.Psi., M.Psi., serta Kepala Bidang Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Lina Kamalin. Jumat 12 Juni 2026.
Lina Kamalin mengatakan, anak-anak saat ini menghadapi tantangan besar berupa algoritma media sosial yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada cara anak menerima dan mengolah informasi.
"Kita sedang menghadapi pertempuran neurobiologis di otak anak. Algoritma media sosial mampu menyita waktu mereka hingga berjam-jam setiap hari," ujarnya.
Ia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi konten berdurasi pendek secara terus-menerus dapat mengurangi kemampuan berpikir mendalam dan membuat anak terbiasa menerima informasi secara instan tanpa proses analisis yang cukup.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi telah menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengembalikan fokus peserta didik pada proses belajar dan interaksi sosial secara langsung.
Sementara itu, Betty Kumala menyoroti dampak psikologis yang muncul ketika anak mulai mengalami kecanduan gawai dan media sosial. Menurutnya, perubahan perilaku menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai oleh orang tua.
"Anak yang mengalami kecanduan biasanya mulai tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Ketika gawainya diambil, mereka bisa menunjukkan reaksi emosional berlebihan atau tantrum," katanya.
Selain ledakan emosi, tanda lain yang kerap muncul adalah berkurangnya kontak mata saat berkomunikasi, sulit merespons panggilan, hingga gangguan pola tidur yang dapat memicu kecemasan dan menurunkan kesehatan mental anak.
Betty juga menekankan pentingnya keteladanan dari orang tua dalam menerapkan pembatasan penggunaan gawai. Menurutnya, aturan yang dibuat di rumah akan sulit dijalankan apabila orang tua sendiri tidak memberikan contoh yang baik.
"Sering kali anak dilarang bermain gawai, tetapi orang tua justru sibuk dengan telepon genggamnya sendiri. Keteladanan menjadi faktor yang sangat penting," ujarnya.
Dalam dialog tersebut juga dibahas sejumlah dampak sosial yang muncul akibat penggunaan media sosial secara berlebihan. Salah satunya adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yang membuat anak merasa tertinggal apabila tidak mengikuti tren yang sedang populer di dunia maya.
Selain itu, paparan ujaran kebencian dan bahasa kasar di media sosial juga dinilai berpotensi memengaruhi perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit pelajar yang meniru pola komunikasi negatif yang mereka lihat di ruang digital.
| Baca juga: Wisuda SOTH Kita Indonesia Emas 2026 |
Lina Kamalin mengajak para orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak dan berani menetapkan aturan yang jelas mengenai durasi penggunaan gawai di rumah.
Menurutnya, keluarga harus mengambil peran utama dalam membentuk karakter anak agar tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
Senada dengan itu, Betty Kumala mengingatkan pentingnya membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Kehadiran orang tua yang hangat dan suportif diyakini dapat mengurangi ketergantungan anak terhadap media sosial sebagai tempat mencari perhatian maupun pelarian emosional.
"Anak harus merasa nyaman, aman, dan didengar di rumah. Ketika kebutuhan emosional mereka terpenuhi, kecenderungan mencari pelarian di media sosial juga akan berkurang," ucapnya.
Melalui penguatan pola asuh, keteladanan, dan pengawasan yang konsisten, penggunaan media sosial pada anak diharapkan dapat lebih terkontrol sehingga teknologi tetap menjadi sarana belajar dan berkembang, bukan ancaman bagi masa depan generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....