Sanitasi, Gizi, dan Layanan Primer Terintegrasi Jadi Fondasi Generasi

  • 18 Feb 2026 19:02 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Ketua TP PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan berkelanjutan dengan keluarga sebagai pusat intervensi utama. Pendekatan ini dinilai krusial karena stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, melainkan menyangkut kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi masa depan.

Dalam kunjungannya ke Posyandu Anggrek, Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kamis (13/2/2026), ia menekankan bahwa keterlibatan aktif keluarga, khususnya ibu sebagai pengasuh utama, menjadi faktor penentu keberhasilan. Keluarga harus memahami bahwa pemenuhan gizi, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang bukan pilihan, melainkan kewajiban yang berdampak jangka panjang.

“Pencegahan stunting membutuhkan konsistensi. Keluarga harus memastikan asupan gizi seimbang setiap hari, imunisasi lengkap sesuai jadwal, serta rutin memantau pertumbuhan anak di Posyandu. Intervensi tidak boleh terputus,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pencegahan dimulai sejak fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode ini, ibu hamil wajib mendapatkan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, konsumsi tablet tambah darah, serta edukasi gizi yang memadai. Kekurangan asupan gizi pada fase ini berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan permanen.

Setelah kelahiran, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menjadi fondasi utama imunitas dan tumbuh kembang bayi. Tahap berikutnya adalah pemberian MPASI yang memenuhi unsur karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, vitamin, serta mineral dalam proporsi seimbang. Pola makan yang monoton dan minim protein hewani menjadi salah satu faktor risiko stunting yang harus dihindari.

Pemantauan pertumbuhan secara berkala di Posyandu menjadi instrumen penting dalam mendeteksi gangguan sejak dini. Pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala harus dilakukan rutin untuk memastikan grafik pertumbuhan anak sesuai standar. Apabila ditemukan indikasi masalah, intervensi harus segera diberikan.

Dalam kunjungan tersebut, layanan Posyandu juga dirangkaikan dengan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), pemberian vitamin A, serta obat cacing bagi balita. Intervensi ini terbukti efektif mencegah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan mikronutrien dan infeksi cacing yang dapat menghambat penyerapan gizi.

Dewi Natalia menambahkan bahwa aspek sanitasi dan perilaku hidup bersih turut menentukan keberhasilan pencegahan stunting. Akses air bersih, penggunaan jamban sehat, serta kebiasaan mencuci tangan pakai sabun harus menjadi budaya keluarga. Tanpa lingkungan yang sehat, intervensi gizi tidak akan optimal.

“Jika kita ingin membangun sumber daya manusia unggul, maka pencegahan stunting harus menjadi gerakan bersama yang terukur dan konsisten. Dimulai dari keluarga, diperkuat Posyandu, dan didukung penuh oleh lintas sektor,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari intervensi gizi spesifik, layanan kesehatan dasar, hingga perbaikan sanitasi, Pemkab Lumajang menegaskan komitmennya menjadikan Posyandu sebagai pusat penguatan kualitas generasi. Upaya ini menjadi investasi strategis untuk melahirkan anak-anak Lumajang yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan. (MC Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....