Menggali Ilmu Karawitan di Balik Tembok Keraton

  • 22 Mei 2026 12:50 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID,Lumajang-Semangat melestarikan budaya Jawa terus ditunjukkan para pengrawit Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Lumajang, Sebanyak 26 pengrawit tim karawitan PWRI Lumajang sukses melakukan kegiatan ngangsu kaweruh atau menimba ilmu seni karawitan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,

Rombongan diterima langsung oleh Abdi Dalem Keraton, Mas Riyo Susilo Madyo di Pendopo Pangurakan, Suasana penyambutan berlangsung khidmat dan penuh nuansa kekeluargaan dengan tetap menjunjung tinggi tata krama khas lingkungan keraton.

Dalam kesempatan tersebut, Mas Riyo Susilo Madyo menjelaskan perjalanan dirinya hingga dipercaya menjadi bagian dari Abdi Dalem Keraton yang mengurusi bidang seni budaya karawitan.

Kepercayaan itu diperoleh setelah melewati sembilan jenjang kepangkatan.

“Bidang yang kami tangani meliputi seni karawitan, penabuh gamelan, sinden hingga lebho suworo atau pesinden pria,” ungkapnya.

Tak hanya membahas teknis seni, Mas Riyo juga memaparkan filosofi mendalam tentang karawitan, Menurutnya, kata karawitan berasal dari kata “rawit” yang bermakna rumit atau tidak sederhana. Filosofi tersebut menggambarkan kehidupan manusia yang penuh persoalan dan dinamika.

“Melalui karawitan, manusia diajarkan untuk menghadapi kerumitan hidup dengan olah rasa. Kehidupan tidak hanya bergantung pada mata dan telinga, tetapi juga menyentuh hati sanubari,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap instrumen dalam karawitan memiliki makna saling terhubung, saling memperhatikan, bertoleransi, dan berkolaborasi. Nilai-nilai tersebut berpijak pada harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam.

Dalam upaya pelestarian budaya, pihak keraton secara rutin menularkan ilmu seni tradisional kepada masyarakat melalui berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan seni. Materi yang diajarkan meliputi pedalangan, mocopat, hingga penulisan aksara Jawa yang diberikan secara gratis.

Sementara itu, Ketua PWRI Lumajang, Endang Istijowati menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi sarana penting untuk menambah wawasan dan memperdalam kemampuan para pengrawit PWRI.

Menurutnya, melalui kegiatan ngangsu kaweruh tersebut, para pengrawit dapat mengetahui kekurangan sekaligus belajar dari kelebihan para seniman karawitan di Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa.

“Harapan kami, setelah belajar langsung di lingkungan Keraton Yogyakarta, kemampuan dan kualitas penampilan para pengrawit PWRI Kabupaten Lumajang akan semakin baik,” pungkasnya.( PWRI/Fend)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....