Medan Terjal, Distribusi MBG di Sekolah Terpencil Gunakan Motor
- 26 Apr 2026 09:15 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Distribusi program makan bergizi gratis (MBG) di SDN Banyuwulu 4, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, dilakukan dengan cara berbeda akibat akses medan yang sulit, yakni menggunakan sepeda motor dan wadah khusus layaknya prasmanan, Minggu (26/4/2026). Metode ini diterapkan agar makanan tetap sampai dalam kondisi baik kepada sekitar 120 siswa di wilayah terpencil tersebut.
Berbeda dengan penyaluran pada umumnya yang menggunakan ompreng siap saji, petugas distribusi MBG di sekolah tersebut membawa makanan dalam kotak khusus food grade. Proses pemorsian baru dilakukan setibanya di sekolah, menyesuaikan kondisi medan yang ekstrem dan jarak tempuh yang cukup panjang.
Koordinator Wilayah SPPG Bondowoso, Mila Alfarina, mengatakan bahwa menu MBG untuk SDN Banyuwulu 4 disuplai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wringin II. Karena keterbatasan akses, pihaknya harus melakukan penyesuaian teknis dalam distribusi. “Jadi pemorsian, pemasukan ke ompreng-ompreng itu di sekolah,” ujar Mila.
Ia menjelaskan, tim distribusi berangkat lebih awal agar makanan bisa tiba tepat waktu. Sejumlah sekolah di wilayah Gubrih dan Banyuwulu memang berada di daerah terpencil dengan kondisi jalan yang cukup ekstrem. “Berangkatnya lebih awal, bisa jam 6 atau jam 7. Biasanya pukul 08.00 sudah sampai di sekolah,” katanya.
Meski menggunakan metode berbeda, Mila memastikan kualitas dan menu makanan tetap sama dengan wilayah lain. Pihaknya juga diminta memberi perhatian khusus pada keamanan pangan untuk daerah terpencil. “Pihak sekolah dan wali murid sangat membutuhkan MBG di sini,” tuturnya.
Sementara itu, pihak sekolah menyebut program MBG membawa dampak positif bagi siswa. Penjaga SDN Banyuwulu 4, Surajak, mengatakan kehadiran MBG membuat anak-anak lebih bersemangat datang ke sekolah. Keterbatasan akses kebutuhan pokok di wilayah tersebut membuat makanan bergizi menjadi hal yang jarang didapat.
“Kalau di rumah jarang makan ikan, paling ikan kering,” ujar salah satu guru.
Tercatat sebanyak 94 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 bersekolah di SDN Banyuwulu 4. Mereka berasal dari wilayah perbatasan Banyuwulu dan Gubrih dengan kondisi ekonomi terbatas.
Program MBG dinilai membantu siswa yang sebelumnya kerap datang ke sekolah dalam kondisi lapar. “Anak-anak sekarang tenang. Sudah makan, jadi belajarnya enak,” kata Surajak.
Tak hanya dikonsumsi di sekolah, sebagian siswa juga menyisihkan makanan untuk dibawa pulang. Salah satunya Nurhayati yang ingin berbagi dengan keluarganya. “Mau dikasih ke ibu, biar tahu juga gimana rasanya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Fatwatul Nabilah. Ia mengaku kerap membawa sebagian makanan untuk orang tuanya di rumah. Meski harus berjalan sekitar satu kilometer melewati persawahan dan jalan ekstrem, ia tetap antusias mengikuti program tersebut. “Punya saya dikasih ke orang tua, biar mencoba juga,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....