Dosen AKN dan UTU Kenalkan Teknologi Tanam Modern
- 24 Jul 2025 22:09 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh : Petani di Kecamatan Woyla Barat, Aceh Barat, mulai merasakan kemudahan dalam budidaya padi berkat teknologi tanam padi modern. Teknologi tersebut diperkenalkan oleh dosen Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat dan Universitas Teuku Umar (UTU) melalui program nasional pengabdian kepada Masyarakat, Kamis (24/7/2025).
Program bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Penggunaan Alat Tanam Padi bagi Petani di Woyla Barat untuk Mewujudkan Swasembada Pangan Berbasis Prinsip Ekonomi Islam” itu didanai oleh Kemdikbudristek. Kegiatan dilaksanakan melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, DPPM.
Ketua tim pengabdi, Luthfi, M.Pd, menjelaskan alat tanam semi otomatis atau rice transplanter ini baru pertama kali digunakan di Aceh Barat. Teknologi ini mampu mengatasi keterbatasan tenaga kerja, menurunkan biaya produksi, dan mempercepat proses tanam.
“Kami berharap teknologi ini tak hanya membawa efisiensi di sawah, tetapi juga memberi waktu lebih luas bagi petani untuk menuntut ilmu, termasuk menghadiri majelis-majelis taklim. Ini adalah implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya kepada RRI.

Ketua Kelompok Tani Berkah Bersama, Hikmatul Halawah, menyambut baik pengenalan alat tanam tersebut. Menurutnya, alat ini mempercepat proses tanam, menekan biaya operasional, dan memberi ruang lebih bagi petani untuk aktivitas lainnya.
“Mon Pasong dipilih sebagai lokasi sangat tepat. Kami para petani sangat terbantu secara waktu dan tenaga,” ujarnya.
Dalam sesi sosialisasi, dosen UTU, Lilis Marlina, SE., M.Si, memaparkan materi berjudul “Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam dalam Mewujudkan Swasembada Pangan”. Ia menekankan pentingnya sistem ekonomi pertanian berbasis nilai Islam yang berpihak pada keadilan sosial.
Lilis menyampaikan bahwa negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk pangan, dan mencegah praktik merugikan seperti penimbunan dan permainan harga. Ia menegaskan perlunya cadangan pangan nasional dan penerapan keuangan syariah di sektor pertanian.
Usai sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik alat tanam sistem jajar legowo (Jarwo) menggunakan jarak tanam 20 cm x 4 baris. Praktik tersebut dipandu oleh instruktur teknis Apriani, SP, Lori Ledhia, SP, dan Saprida, SP secara langsung di lahan sawah.
Instruktur membimbing petani mulai dari pengenalan alat, metode tanam, hingga pengoperasian langsung agar mampu menggunakan teknologi ini secara mandiri. Petani diajarkan efisiensi waktu dan ketepatan dalam penggunaan teknologi ini.
Salah satu peserta, Maya, mengaku baru pertama kali mencoba alat ini dan langsung merasakan perbedaannya. “Dengan manual hanya 4 baris, alat ini bisa 24 baris sekaligus, lebih cepat dan tidak melelahkan,” ujarnya.
Program ini bukan hanya menjawab persoalan teknis dalam pertanian, tetapi juga menggabungkan nilai syariah dalam praktik ekonomi desa. Dengan pendekatan partisipatif dan edukatif, kegiatan ini diharapkan menciptakan pertanian yang adil, mandiri, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....