Seblak, Makanan Khas Sunda yang Populer
- 06 Jun 2025 04:24 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Seblak, makanan khas dari tanah Sunda, khususnya Bandung, kini telah menjadi salah satu kuliner favorit masyarakat di berbagai daerah Indonesia, termasuk di Samarinda. Cita rasanya yang gurih pedas dengan aroma khas dari kencur menjadikannya unik dan digemari lintas usia.
Dalam sebuah sesi Podcast Pro 4 RRI Samarinda, dua narasumber asal Sunda, Teh Iis dan Teh Heni, berbagi cerita tentang asal-usul dan perkembangan seblak yang kini menjamur di luar daerah asalnya.
“Seblak itu makanan khas Sunda, dan kalau bicara makanan Sunda, banyak yang berbahan dasar tepung kanji. Seperti seblak ini, yang terbuat dari kerupuk. Bedanya, kerupuk yang biasanya digoreng, dalam seblak justru direbus, lalu diberi bumbu,” ujar Teh Iis.
Teh Iis menambahkan bahwa asal-usul seblak berasal dari wilayah Garut, Jawa Barat, yang awalnya dikenal dengan sebutan kerupuk leor. Dalam bahasa Sunda, “leor” berarti lemas, menggambarkan tekstur kerupuk yang telah direbus. Namun, seblak memiliki ciri khas yang membedakannya, yaitu penggunaan bumbu kencur yang kuat.
Sementara itu, Teh Heni menjelaskan asal mula penamaan “seblak” yang unik. “Seblak itu dari kata nyeblak, yang dalam bahasa Sunda berarti ‘kaget’. Jadi ketika makan suapan pertama, rasanya kaget karena pedasnya dan bumbu khasnya,” tuturnya sambil tertawa.
Ia pun mengenang pertama kali mencicipi seblak versi asli di kampung halamannya. “Dulu itu cuma kerupuk, bawang putih, lombok rawit, dan kencur. Tapi sekarang, topping-nya macam-macam, bahkan ada yang mirip tomyam,” ujar Teh Heni.
Inovasi dalam penyajian seblak pun turut menjadikannya semakin populer. Dari yang awalnya hanya berbentuk kering dan tanpa kuah, kini banyak penjual menghadirkan versi kuah lengkap dengan beragam topping seperti ceker, bakso, sosis, hingga seafood.
Teh Iis menambahkan bahwa kreativitas masyarakat Sunda turut mendorong berkembangnya seblak. “Dulu minyak goreng susah didapat. Jadi daripada digoreng, kerupuknya direbus. Orang Sunda itu memang banyak akalnya,” ungkapnya.
Sebagai perantau yang telah tinggal di Samarinda sejak tahun 2006, Teh Heni merasa bangga karena seblak kini dikenal luas dan disukai masyarakat di luar Jawa Barat. “Saya kenalkan seblak ke anak saya dan langsung suka.,” tuturnya.
Teh Iis pun menambahkan bahwa jenis kerupuk yang digunakan juga berpengaruh pada cita rasa. “Dulu yang enak itu pakai kerupuk kemplang Sumbersari, warnanya oranye. Itu enak banget dibuat seblak, beda dengan kerupuk yang saya temui di Samarinda,” pungkasnya.
Terakhir Teh Iis menyebut seblak ini bisa menjadi pengobat rindu ketika rindu kampung halaman.
Kini, seblak tak hanya menjadi makanan nostalgia bagi warga Sunda di perantauan, tapi juga telah menjelma menjadi ikon kuliner kekinian yang menyatukan selera dari berbagai latar belakang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....