Melacak Ketersendatan Distribusi Beras dari Gudang ke Pengecer

  • 05 Okt 2026 00:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah melakukan pengecekan ketersediaan beras nasional di Pasar Induk Beras Cipinang pada Jumat 2 Oktober 2026 bersama Komisi IV DPR RI, Badan Pangan Nasional, dan Perum Bulog.
  • Cadangan beras dan penyaluran intervensi pangan menunjukkan volume yang besar menurut data pemerintah.
  • Pemerintah terus memperkuat distribusi beras hingga ke tingkat pengecer dan ritel untuk memastikan ketersediaan yang stabil.

Pergerakan harga tersebut berlangsung ketika produksi beras mulai memasuki periode setelah puncak panen raya. BPS menyebut berkurangnya pasokan setelah masa panen raya dan kondisi kemarau yang lebih kering turut memengaruhi harga beras pada September.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelancaran pasokan gabah dari sentra produksi menuju penggilingan ikut memengaruhi rantai pasok. Kondisi kemarau di sejumlah wilayah membuat pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi terbatas.

BPS mencatat produksi beras untuk konsumsi masyarakat pada Agustus 2026 mencapai 3,15 juta ton. Angka tersebut turun 2,90 persen dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 3,24 juta ton.

Untuk periode September-November 2026, BPS memperkirakan produksi beras mencapai 7,06 juta ton. Angka tersebut turun 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara kumulatif, produksi beras Januari-November 2026 diperkirakan mencapai 32,34 juta ton. Angka tersebut turun 2,82 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

BPS memperkirakan produksi padi periode September-November mencapai 12,24 juta ton gabah kering giling. Produksi tersebut diperkirakan turun 11,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Untuk periode September hingga November 2026, produksi beras diprakirakan mencapai 7,06 juta ton, atau mengalami penurunan sekitar 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, total produksi beras Januari hingga November 2026 diperkirakan mencapai 32,34 juta ton," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....