Film Operasi Pesta Copet: Merangkai Keramaian Pestapora ke Layar Lebar
- 24 Agt 2026 00:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Film 'Operasi Pesta Copet' mengangkat tema pencopetan dengan latar belakang festival musik Pestapora yang menampilkan suasana ramai dan natural.
- Sutradara Edy Khemod menggabungkan teknik sinematografi dengan memanfaatkan lokasi Pestapora dan menciptakan adegan khusus untuk keperluan naratif film.
- Proses produksi film ini melibatkan perhitungan matang dan perencanaan panjang untuk menghasilkan cerita yang kohesif antara latar nyata dan adegan rekayasa.
Setelah melihat panjangnya proses produksi, Operasi Pesta Copet tidak hanya menawarkan cerita tentang aksi pencopetan di tengah festival musik. Film ini juga membawa penonton melihat kehidupan empat anak muda yang berada dalam tekanan ekonomi.
Ijal, Adut, Tia, dan Melodi tidak digambarkan sebagai pencopet karena sejak awal memilih kehidupan kriminal. Mereka berada dalam situasi yang membuat pilihan hidup terasa semakin terbatas.
Pandangan tersebut menjadi dasar bagi film untuk menghadirkan sisi manusiawi dari keempat karakter. Persahabatan dan kehidupan mereka menjadi bagian penting dari cerita, di tengah keputusan salah yang akhirnya mereka ambil.
Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal menegaskan bahwa film ini tidak bermaksud membenarkan tindakan pencopetan. Ia justru ingin memperlihatkan kondisi yang membuat seseorang bisa mengambil keputusan tersebut.
“Karakter-karakter di film Operasi Pesta Copet itu sebenarnya bukan orang jahat. Mereka hanya anak-anak muda yang terpaksa nekat karena tuntutan ekonomi, karena siapa sih yang mau jadi copet? Gak ada,” kata Iqbaal saat konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Iqbaal juga menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan dan pilihan hidup yang sama. Karena itu, film mencoba mengajak penonton melihat manusia di balik tindakan kriminal tanpa menjadikan tindakannya sebagai sesuatu yang patut ditiru.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Ernest Prakasa mengenai perubahan judul film. Ia menyebut kata “copet” menjadi bagian dari esensi awal cerita yang ingin melihat pencopetan sebagai fenomena yang berkaitan dengan ketimpangan sosial.
“Judul Operasi Pesta Copet dipilih karena mengacu kembali pada esensi ide awal film ini. Yakni copet sebagai fenomena gunung es ketimpangan sosial,” ucap Ernest.
Menurut Ernest, judul tersebut dipilih agar pesan yang ingin disampaikan film menjadi lebih lugas. Dengan begitu, pencopetan tidak hanya ditempatkan sebagai aksi kriminal dalam cerita, tetapi juga sebagai pintu untuk melihat persoalan sosial di belakangnya.
Pendekatan itu membuat perjalanan Ijal dan ketiga sahabatnya menjadi lebih dari sekadar operasi mencopet di Pestapora. Film ini mencoba memperlihatkan bagaimana tekanan hidup, keterbatasan kesempatan, dan persahabatan membentuk keputusan keempat tokohnya.
Pada akhirnya, keramaian Pestapora yang menjadi bagian besar dari produksi hanyalah salah satu lapisan cerita. Di balik kamera, ratusan extras dan proses syuting yang rumit membangun dunia film, membawa persoalan manusia yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Operasi Pesta Copet pun hadir bukan untuk mengglorifikasi aksi kriminal. Film ini justru mengajak penonton memahami sisi manusiawi, sekaligus tetap melihat bahwa keputusan yang mereka ambil merupakan pilihan yang salah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....