Film Operasi Pesta Copet: Merangkai Keramaian Pestapora ke Layar Lebar

  • 24 Agt 2026 00:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film 'Operasi Pesta Copet' mengangkat tema pencopetan dengan latar belakang festival musik Pestapora yang menampilkan suasana ramai dan natural.
  • Sutradara Edy Khemod menggabungkan teknik sinematografi dengan memanfaatkan lokasi Pestapora dan menciptakan adegan khusus untuk keperluan naratif film.
  • Proses produksi film ini melibatkan perhitungan matang dan perencanaan panjang untuk menghasilkan cerita yang kohesif antara latar nyata dan adegan rekayasa.
Ide yang Dipersiapkan Bertahun-Tahun

FILM Operasi Pesta Copet menghadirkan cerita pencopetan dengan latar festival musik Pestapora. Di balik keramaian yang terlihat natural, ada proses produksi panjang dan penuh perhitungan.

Film garapan sutradara Edy Khemod ini tidak hanya mengandalkan lokasi festival sebagai latar cerita. Tim produksi memadukan pengambilan gambar di Pestapora dengan adegan yang dibuat secara khusus untuk kebutuhan film.

Keputusan tersebut membuat proses produksi Operasi Pesta Copet membutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Tim harus memikirkan bagaimana kerumunan festival tetap terlihat alami, sekaligus mendukung kebutuhan adegan.

Ide film ini telah dikembangkan sejak 2023 dan sempat direncanakan untuk diproduksi di Pestapora 2024. Namun, tim akhirnya memilih menunda proses tersebut agar persiapannya lebih matang.

Setahun kemudian, tim kembali menyiapkan produksi untuk Pestapora 2025. Pengambilan gambar dilakukan beberapa hari sebelum hingga setelah festival, dengan memanfaatkan kondisi festival sekaligus menyiapkan adegan secara lebih terkontrol.

Proses tersebut menjadi bagian penting dari bagaimana Operasi Pesta Copet membangun dunia ceritanya. Keramaian yang tampak sederhana di layar ternyata merupakan hasil kolaborasi antara tim film, penyelenggara festival, pemain, hingga ratusan pemeran tambahan.

Perjalanan produksi inilah yang menjadi salah satu sisi menarik dari Operasi Pesta Copet. Bagaimana sebuah film dapat merangkai keramaian festival sungguhan menjadi bagian dari cerita di layar lebar?

Ketika Pestapora Menjadi Lokasi Syuting

Gagasan Operasi Pesta Copet tidak muncul dalam waktu singkat. Film ini telah dikembangkan sejak 2023, sebelum akhirnya diproduksi dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 2026.

Ide tersebut berawal dari keresahan Edy Khemod terhadap aksi pencopetan yang kerap ditemuinya ketika menghadiri konser bersama band Seringai. Keresahan itu kemudian berkembang menjadi gagasan film yang mengambil latar festival musik.

Produser Dipa Andika mengatakan, pertemuan pertama pihak Imajinari dengan Khemod berlangsung pada 2023. Saat itu, Khemod datang membawa gagasan sederhana tentang cerita pencopetan di konser.

“Pertama kali Khemod cuma bilang, ‘Gue pengen bikin film tentang copet.’ Karena setiap konser Seringai pasti ada copet,” kata Dipa dalam konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026.

Dari gagasan tersebut, tim kemudian mulai memikirkan bentuk cerita dan lokasi yang paling sesuai. Festival musik sungguhan dipilih karena memberikan suasana yang sulit direplikasi jika seluruh latar dibuat sebagai set film.

Pilihan tersebut kemudian membawa tim kepada Pestapora. Dipa menjelaskan, membuat festival sendiri dengan skala yang menyerupai Pestapora membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Kalau kami harus membuat festival sendiri yang menyerupai Pestapora, biayanya pasti sangat besar. Akhirnya kami memutuskan bekerja sama dengan Boss Creator,” ujarnya.

Kerja sama dengan Boss Creator menjadi bagian penting dari perjalanan proyek tersebut. Tim tidak hanya mendapatkan latar festival, tetapi juga harus menyesuaikan proses produksi dengan penyelenggaraan acara yang benar-benar berlangsung.

Rencana awalnya, proses syuting dilakukan di Pestapora 2024. Namun, setelah melihat kompleksitas produksi, tim memutuskan menundanya hingga 2025 agar persiapannya lebih matang.

Ernest Prakasa menyebut keputusan tersebut justru menjadi salah satu langkah penting dalam proses produksi. Ia mengatakan tim sempat menyadari bahwa pengambilan gambar di festival nyata tidak semudah yang dibayangkan.

Ernest menyampaikan, keputusan itu diambil setelah tim menyadari besarnya tantangan yang akan dihadapi. Mereka kemudian memilih menggunakan waktu tambahan untuk mempersiapkan produksi secara lebih matang sebelum benar-benar masuk ke Pestapora 2025.

Dipa bahkan mengatakan persiapan khusus untuk syuting di Pestapora telah dilakukan sejak 2024. “Kita dateng ke Pestapora 2024 kita lihat stage mana yang perkiraan akan kita syuting untuk dilakukan pada saat 2025,” katanya.

Persiapan tersebut penting karena tim hanya memiliki waktu terbatas untuk mengambil gambar ketika Pestapora 2025 berlangsung. Kondisi itu membuat produksi harus dirancang sedetail mungkin sebelum kamera benar-benar mulai merekam.

Dengan demikian, perjalanan Operasi Pesta Copet bukan hanya tentang membawa kamera ke sebuah festival musik. Film ini membutuhkan proses panjang untuk memastikan gagasan yang berawal dari keresahan terhadap pencopetan dapat diwujudkan.

Dari sebuah ide sederhana tentang copet di konser, tim kemudian menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Mereka harus menemukan cara untuk menjadikan keramaian Pestapora bukan sekadar latar, tetapi bagian penting dari dunia film.

500 Extras dan Kerumunan yang Harus Diatur

Keputusan menggunakan Pestapora sebagai lokasi syuting membawa tantangan baru bagi tim Operasi Pesta Copet. Festival yang menjadi latar cerita harus tetap berjalan seperti biasa, sementara kru film harus bekerja di tengah ribuan penonton.

Berbeda dengan set film yang dapat dikendalikan, suasana festival terus bergerak tanpa menunggu kebutuhan produksi. Pemain dan kru harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang terjadi saat pengambilan gambar berlangsung.

Sutradara Edy Khemod mengatakan situasi tersebut membuat tim tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengulang momen. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan terbesar karena kejadian di tengah festival tidak dapat diprediksi.

“Kami harus merespons momen yang terjadi saat pengambilan gambar. Karena tidak ada momen yang bisa diulang,” katanya dalam konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026.

Menurutnya, proses tersebut membuat tim harus benar-benar menangkap momen yang terjadi di lokasi tanpa banyak ruang untuk kesalahan. Kondisi tersebut juga membuat persiapan teknis harus dilakukan jauh sebelum festival berlangsung.

Produser Dipa Andika mengatakan waktu yang tersedia untuk produksi di festival sangat terbatas. Karena itu, tim harus menentukan kebutuhan pengambilan gambar sejak jauh hari.

“Kita dateng ke Pestapora 2024 kita liat stage mana yang perkiraan akan kita syuting untuk dilakukan pada saat 2025. Jadi ya kalau gagal kita cuma punya waktu 3 hari,” ucap Dipa.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa produksi tidak bisa mengandalkan kesempatan kedua ketika festival sudah berlangsung. Setiap kebutuhan pengambilan gambar harus diperhitungkan karena panggung, jadwal pertunjukan, hingga pergerakan penonton mengikuti rangkaian acara Pestapora.

Dari sisi penyelenggara, Pestapora juga harus tetap berjalan tanpa perubahan besar yang dirasakan pengunjung. Produser eksekutif sekaligus pendiri Boss Creator, Kiki Ucup, mengatakan penyesuaian lebih banyak dilakukan pada aspek teknis produksi.

Salah satunya berkaitan dengan pembangunan panggung. Jika biasanya panggung selesai dua hingga tiga hari sebelum acara, untuk kebutuhan film beberapa panggung harus sudah siap sekitar empat hari sebelumnya.

Dengan demikian, keberadaan Operasi Pesta Copet tidak mengubah Pestapora menjadi set film sepenuhnya. Festival tetap berlangsung sebagai acara musik, sementara produksi film berusaha masuk ke dalam ritme acara tersebut tanpa menghilangkan suasana aslinya.

Cara ini kemudian memberikan keuntungan bagi film. Pemain dapat berinteraksi dengan lingkungan yang benar-benar hidup, sementara kamera menangkap keramaian yang tidak mungkin sepenuhnya direkayasa.

Namun, tidak semua adegan dapat mengandalkan kondisi festival yang sulit dikendalikan. Tim akhirnya menggunakan pendekatan berbeda untuk sejumlah adegan, termasuk membuat ulang suasana Pestapora dengan ratusan pemeran tambahan.

Empat Tokoh Utama Belajar Menjadi Pencopet

Membawa kamera ke festival sungguhan bukan berarti seluruh adegan Operasi Pesta Copet direkam di tengah penonton. Tim produksi tetap membutuhkan kerumunan yang dapat dikendalikan untuk mendukung sejumlah adegan dalam film.

Karena itu, sekitar 500 pemeran tambahan dilibatkan dalam proses syuting. Mereka digunakan untuk menciptakan kembali suasana festival sebelum akhirnya dipadukan dengan footage Pestapora yang direkam secara langsung.

Produser Ernest Prakasa menjelaskan, adegan festival dalam film memang dibuat melalui perpaduan antara kondisi Pestapora yang sebenarnya dan adegan yang sengaja direkam untuk kebutuhan produksi.

“Intinya kita melakukan adegan-adegan pesta pora itu memang campuran. Adegan antara real Pestaporanya dengan adegan yang kita shoot di panggung Pestapora tapi sebelum konsernya dimulai,” ujar Ernest di Plaza Senayan, Jakarta, Senin 18 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, sekitar 500 extras digunakan untuk menciptakan set yang dibutuhkan. Suasana yang kemudian dapat dipadukan dengan rekaman Pestapora asli melalui proses penyuntingan.

“Dengan 500 ekstra jadi kita buat seolah-olah itu memang asli. Untuk secara editing dikawinkan dengan footage real Pestaporanya,” katanya.

Kerumunan dalam film tidak sepenuhnya bergantung pada penonton festival. Tim justru membangun kondisi yang lebih terkontrol agar pemain dapat menjalankan adegan sesuai kebutuhan cerita.

Dalam kondisi tersebut, posisi pemain dan pemeran tambahan dapat diatur sebelum kamera merekam. Adegan juga memiliki ruang untuk diulang apabila ada bagian yang belum sesuai dengan kebutuhan sutradara.

Cara tersebut menjadi penting karena ada perbedaan mendasar antara syuting di festival sungguhan dan membuat kerumunan untuk kebutuhan film. Di Pestapora, penonton bergerak mengikuti acara dan kru tidak dapat mengatur seluruh aktivitas yang terjadi di sekitar pemain.

Sementara itu, penggunaan extras memberikan kendali lebih besar kepada tim produksi. Mereka dapat menentukan kepadatan, posisi, hingga pergerakan kerumunan agar sesuai dengan kebutuhan adegan.

Namun, 500 extras bukan sekadar orang yang ditempatkan untuk memenuhi latar belakang gambar. Tim juga berusaha memastikan mereka terlihat sebagai bagian dari dunia Pestapora yang sedang dibangun dalam film.

Hal tersebut terlihat dari perhatian tim terhadap detail penampilan para extras. Kawai Labiba mengungkapkan bahwa tim wardrobe melakukan riset tidak hanya untuk pemeran utama, tetapi juga ratusan extras yang terlibat.

“Riset yang mereka lakukan tuh bukan cuma untuk ke karakter kita, tapi juga ke 500 extras-nya tuh. Pokoknya dijagain banget gitu untuk menghidupkan dunia si Operasi Pesta Copet ini,” kata Kawai.

Dengan demikian, 500 extras memiliki fungsi lebih dari sekadar mengisi ruang kosong dalam gambar. Mereka menjadi bagian dari cara tim menciptakan kembali suasana festival ketika kondisi di lokasi asli tidak memungkinkan seluruh adegan dikendalikan.

Hasilnya kemudian dipadukan dengan footage Pestapora yang direkam ketika festival berlangsung. Perpaduan dua kondisi tersebut membuat kerumunan dalam film dapat terlihat sebagai satu suasana yang utuh.

Di Balik Empat Pencopet, Ada Cerita Manusia

Keramaian Pestapora bukan satu-satunya hal yang harus dipersiapkan para pemain Operasi Pesta Copet. Mereka juga harus meyakinkan penonton lewat adegan pencopetan yang dilakukan secara langsung.

Iqbaal Ramadhan mengungkapkan, para pemain mendapat pelatihan khusus dari pesulap profesional. Tim produksi menyebut mereka sebagai “coach copet” untuk membantu pemain menguasai ketangkasan tangan.

“Jadi kita emang punya coach copet. Coach copetnya ini adalah pesulap, Bow Vernon, Aryo Pringgo, sama Dr. Frenos,” kata Iqbaal saat konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026.

Pelatihan tersebut dilakukan sejak masa persiapan produksi. Para pemain terlebih dahulu mendapat pendampingan secara daring, sebelum melanjutkan latihan secara langsung bersama para pelatih.

Keputusan itu berangkat dari keinginan Ernest Prakasa agar adegan pencopetan dilakukan langsung oleh para pemain. Tim tidak ingin adegan tersebut bergantung pada pemeran pengganti atau trik penyuntingan.

“Dari awal Koh Ernest bilang dia nggak mau kita sebagai aktornya dibantu stuntman untuk adegan copetnya. Koh Ernest juga enggak mau adegan pencopetan itu dilakukan oleh editor film,” ujar Iqbaal.

Dengan tuntutan tersebut, latihan tidak berhenti pada gerakan mengambil barang. Para pemain juga mempelajari bagaimana mengalihkan perhatian dan membangun koordinasi saat melakukan adegan bersama.

“Kita enggak cuma belajar teknis, kita belajar jurus-jurus pengalihannya, misfokus dan distraksi. Kita sampai dipresentasikan pakai slides buat belajar,” katanya.

Latihan bahkan dilakukan menggunakan ponsel tiruan atau dummy phone. Peralatan tersebut digunakan untuk melatih ketangkasan dan kekuatan jari para pemain agar gerakan mereka terlihat lebih natural di depan kamera.

Proses tersebut berlangsung lebih dari satu bulan. Iqbaal juga mengungkapkan bahwa tantangan juga terletak pada kemampuan keempat pemain dapat membangun koordinasi sebagai sebuah kelompok.

Dalam adegan pencopetan berkelompok, setiap pemain memiliki fungsi berbeda. Ada yang mengalihkan perhatian, mengambil barang, hingga menerima atau mengoper barang tersebut.

“Makanya sempat ada beberapa mungkin temen-temen tahu, copet digebukin karena berasa mengambil sesuatu, tapi begitu dicek gak ada barang bukti. Karena memang barangnya udah gak di dia, udah dioper,” ujar Iqbaal.

Bagi Iqbaal, membangun chemistry dalam situasi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri. Setiap gerakan harus dilakukan dengan timing yang tepat agar aksi para karakter terlihat sebagai kerja sama sebuah kelompok.

Latihan khusus itu akhirnya menjadi bagian dari pendekatan realistis yang diterapkan Operasi Pesta Copet. Jika keramaian Pestapora harus dibangun melalui perpaduan kondisi nyata dan rekayasa produksi, aksi para pencopet juga dibentuk melalui latihan langsung.

Kisah Copet Tapi Bukan Mengglorifikasi Kriminalitas

Di balik aksi pencopetan yang menjadi premis utama, Operasi Pesta Copet membawa cerita tentang empat anak muda. Ijal, Adut, Tia, dan Melodi digambarkan menghadapi tekanan hidup yang mendorong mereka mengambil pilihan sulit.

Keempat karakter tersebut tidak sejak awal digambarkan sebagai orang yang memilih kriminalitas. Mereka berada dalam situasi ekonomi yang sulit dan kesulitan mendapatkan pekerjaan layak.

Sutradara Edy Khemod mengatakan film ini ingin melihat kehidupan para tokohnya dari sisi yang lebih luas. Menurutnya, pencopetan menjadi bagian dari persoalan sosial yang ingin dibicarakan melalui cerita.

“Nyopet di konser bukanlah pilihan utama mereka. Mereka melakukannya karena terpepet,” kata Edy Khemod.

Pilihan tersebut membuat cerita tidak hanya berpusat pada aksi mereka di tengah festival. Persahabatan keempat tokoh juga menjadi bagian penting ketika mereka menghadapi berbagai persoalan.

Karakter Ijal menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai latar belakang tersebut. Ia memiliki mimpi seperti anak muda lainnya, tetapi tidak memiliki dukungan ekonomi yang cukup untuk mengejar kehidupan yang diinginkan.

Iqbaal Ramadhan melihat Ijal sebagai karakter yang dekat dengan persoalan ketidakadilan sosial. Ia menilai perbedaan kehidupan Ijal dengannya bukan terletak pada keinginan untuk memiliki masa depan, tetapi pada kondisi tempat seseorang dilahirkan.

“Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilesenya untuk berada di titik kayak kita sekarang,” ujar Iqbaal.

Menurut Iqbaal menjadi pencopet bukanlah tujuan utama karakter Ijal. Ia juga melihat Ijal sebagai bagian dari kelompok yang terpinggirkan oleh sistem dan struktur sosial.

Perspektif tersebut menjadi penting karena film tidak hanya menempatkan karakter sebagai pelaku tindak kriminal. Penonton juga diajak melihat kondisi yang membentuk keputusan mereka sebelum akhirnya menjalankan aksi nekat tersebut.

Dengan pendekatan itu, persoalan ekonomi tidak digunakan untuk membenarkan tindakan para tokoh. Sebaliknya, latar belakang tersebut menjadi cara film memperlihatkan bahwa sebuah tindakan kriminal juga dapat memiliki konteks sosial yang lebih panjang.

Ernest Prakasa turut menekankan pendekatan tersebut. Menurutnya, karakter dalam film bukanlah orang yang sejak awal ingin menjadi pencopet, melainkan anak muda yang berada dalam keadaan terdesak.

“Karakter-karakter di film Operasi Pesta Copet itu sebenarnya bukan orang jahat. Mereka hanya anak-anak muda yang terpaksa nekat karena tuntutan ekonomi,” katanya.

Pada akhirnya, perjalanan Ijal, Adut, Tia, dan Melodi tidak hanya berbicara tentang bagaimana mereka menjalankan aksi di tengah kerumunan. Cerita mereka juga memperlihatkan persahabatan, tekanan hidup, dan pilihan yang muncul ketika jalan keluar semakin sempit.

Melalui empat karakter tersebut, Operasi Pesta Copet mencoba membawa penonton melihat manusia di balik tindakan yang salah. Film ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa salah dan benar, tetapi juga mengajak melihat alasan dibalik semua itu.

Setelah melihat panjangnya proses produksi, Operasi Pesta Copet tidak hanya menawarkan cerita tentang aksi pencopetan di tengah festival musik. Film ini juga membawa penonton melihat kehidupan empat anak muda yang berada dalam tekanan ekonomi.

Ijal, Adut, Tia, dan Melodi tidak digambarkan sebagai pencopet karena sejak awal memilih kehidupan kriminal. Mereka berada dalam situasi yang membuat pilihan hidup terasa semakin terbatas.

Pandangan tersebut menjadi dasar bagi film untuk menghadirkan sisi manusiawi dari keempat karakter. Persahabatan dan kehidupan mereka menjadi bagian penting dari cerita, di tengah keputusan salah yang akhirnya mereka ambil.

Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal menegaskan bahwa film ini tidak bermaksud membenarkan tindakan pencopetan. Ia justru ingin memperlihatkan kondisi yang membuat seseorang bisa mengambil keputusan tersebut.

“Karakter-karakter di film Operasi Pesta Copet itu sebenarnya bukan orang jahat. Mereka hanya anak-anak muda yang terpaksa nekat karena tuntutan ekonomi, karena siapa sih yang mau jadi copet? Gak ada,” kata Iqbaal saat konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Iqbaal juga menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan dan pilihan hidup yang sama. Karena itu, film mencoba mengajak penonton melihat manusia di balik tindakan kriminal tanpa menjadikan tindakannya sebagai sesuatu yang patut ditiru.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Ernest Prakasa mengenai perubahan judul film. Ia menyebut kata “copet” menjadi bagian dari esensi awal cerita yang ingin melihat pencopetan sebagai fenomena yang berkaitan dengan ketimpangan sosial.

“Judul Operasi Pesta Copet dipilih karena mengacu kembali pada esensi ide awal film ini. Yakni copet sebagai fenomena gunung es ketimpangan sosial,” ucap Ernest.

Menurut Ernest, judul tersebut dipilih agar pesan yang ingin disampaikan film menjadi lebih lugas. Dengan begitu, pencopetan tidak hanya ditempatkan sebagai aksi kriminal dalam cerita, tetapi juga sebagai pintu untuk melihat persoalan sosial di belakangnya.

Pendekatan itu membuat perjalanan Ijal dan ketiga sahabatnya menjadi lebih dari sekadar operasi mencopet di Pestapora. Film ini mencoba memperlihatkan bagaimana tekanan hidup, keterbatasan kesempatan, dan persahabatan membentuk keputusan keempat tokohnya.

Pada akhirnya, keramaian Pestapora yang menjadi bagian besar dari produksi hanyalah salah satu lapisan cerita. Di balik kamera, ratusan extras dan proses syuting yang rumit membangun dunia film, membawa persoalan manusia yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Operasi Pesta Copet pun hadir bukan untuk mengglorifikasi aksi kriminal. Film ini justru mengajak penonton memahami sisi manusiawi, sekaligus tetap melihat bahwa keputusan yang mereka ambil merupakan pilihan yang salah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....