Film Operasi Pesta Copet: Merangkai Keramaian Pestapora ke Layar Lebar
- 24 Agt 2026 00:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Film 'Operasi Pesta Copet' mengangkat tema pencopetan dengan latar belakang festival musik Pestapora yang menampilkan suasana ramai dan natural.
- Sutradara Edy Khemod menggabungkan teknik sinematografi dengan memanfaatkan lokasi Pestapora dan menciptakan adegan khusus untuk keperluan naratif film.
- Proses produksi film ini melibatkan perhitungan matang dan perencanaan panjang untuk menghasilkan cerita yang kohesif antara latar nyata dan adegan rekayasa.
Keputusan menggunakan Pestapora sebagai lokasi syuting membawa tantangan baru bagi tim Operasi Pesta Copet. Festival yang menjadi latar cerita harus tetap berjalan seperti biasa, sementara kru film harus bekerja di tengah ribuan penonton.
Berbeda dengan set film yang dapat dikendalikan, suasana festival terus bergerak tanpa menunggu kebutuhan produksi. Pemain dan kru harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang terjadi saat pengambilan gambar berlangsung.
Sutradara Edy Khemod mengatakan situasi tersebut membuat tim tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengulang momen. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan terbesar karena kejadian di tengah festival tidak dapat diprediksi.
“Kami harus merespons momen yang terjadi saat pengambilan gambar. Karena tidak ada momen yang bisa diulang,” katanya dalam konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026.
Menurutnya, proses tersebut membuat tim harus benar-benar menangkap momen yang terjadi di lokasi tanpa banyak ruang untuk kesalahan. Kondisi tersebut juga membuat persiapan teknis harus dilakukan jauh sebelum festival berlangsung.
Produser Dipa Andika mengatakan waktu yang tersedia untuk produksi di festival sangat terbatas. Karena itu, tim harus menentukan kebutuhan pengambilan gambar sejak jauh hari.
“Kita dateng ke Pestapora 2024 kita liat stage mana yang perkiraan akan kita syuting untuk dilakukan pada saat 2025. Jadi ya kalau gagal kita cuma punya waktu 3 hari,” ucap Dipa.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa produksi tidak bisa mengandalkan kesempatan kedua ketika festival sudah berlangsung. Setiap kebutuhan pengambilan gambar harus diperhitungkan karena panggung, jadwal pertunjukan, hingga pergerakan penonton mengikuti rangkaian acara Pestapora.
Dari sisi penyelenggara, Pestapora juga harus tetap berjalan tanpa perubahan besar yang dirasakan pengunjung. Produser eksekutif sekaligus pendiri Boss Creator, Kiki Ucup, mengatakan penyesuaian lebih banyak dilakukan pada aspek teknis produksi.
Salah satunya berkaitan dengan pembangunan panggung. Jika biasanya panggung selesai dua hingga tiga hari sebelum acara, untuk kebutuhan film beberapa panggung harus sudah siap sekitar empat hari sebelumnya.
Dengan demikian, keberadaan Operasi Pesta Copet tidak mengubah Pestapora menjadi set film sepenuhnya. Festival tetap berlangsung sebagai acara musik, sementara produksi film berusaha masuk ke dalam ritme acara tersebut tanpa menghilangkan suasana aslinya.
Cara ini kemudian memberikan keuntungan bagi film. Pemain dapat berinteraksi dengan lingkungan yang benar-benar hidup, sementara kamera menangkap keramaian yang tidak mungkin sepenuhnya direkayasa.
Namun, tidak semua adegan dapat mengandalkan kondisi festival yang sulit dikendalikan. Tim akhirnya menggunakan pendekatan berbeda untuk sejumlah adegan, termasuk membuat ulang suasana Pestapora dengan ratusan pemeran tambahan.
|
Selanjutnya,
500 Extras dan Kerumunan yang Harus Diatur
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....