Film Operasi Pesta Copet: Merangkai Keramaian Pestapora ke Layar Lebar

  • 24 Agt 2026 00:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film 'Operasi Pesta Copet' mengangkat tema pencopetan dengan latar belakang festival musik Pestapora yang menampilkan suasana ramai dan natural.
  • Sutradara Edy Khemod menggabungkan teknik sinematografi dengan memanfaatkan lokasi Pestapora dan menciptakan adegan khusus untuk keperluan naratif film.
  • Proses produksi film ini melibatkan perhitungan matang dan perencanaan panjang untuk menghasilkan cerita yang kohesif antara latar nyata dan adegan rekayasa.

Membawa kamera ke festival sungguhan bukan berarti seluruh adegan Operasi Pesta Copet direkam di tengah penonton. Tim produksi tetap membutuhkan kerumunan yang dapat dikendalikan untuk mendukung sejumlah adegan dalam film.

Karena itu, sekitar 500 pemeran tambahan dilibatkan dalam proses syuting. Mereka digunakan untuk menciptakan kembali suasana festival sebelum akhirnya dipadukan dengan footage Pestapora yang direkam secara langsung.

Produser Ernest Prakasa menjelaskan, adegan festival dalam film memang dibuat melalui perpaduan antara kondisi Pestapora yang sebenarnya dan adegan yang sengaja direkam untuk kebutuhan produksi.

“Intinya kita melakukan adegan-adegan pesta pora itu memang campuran. Adegan antara real Pestaporanya dengan adegan yang kita shoot di panggung Pestapora tapi sebelum konsernya dimulai,” ujar Ernest di Plaza Senayan, Jakarta, Senin 18 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, sekitar 500 extras digunakan untuk menciptakan set yang dibutuhkan. Suasana yang kemudian dapat dipadukan dengan rekaman Pestapora asli melalui proses penyuntingan.

“Dengan 500 ekstra jadi kita buat seolah-olah itu memang asli. Untuk secara editing dikawinkan dengan footage real Pestaporanya,” katanya.

Kerumunan dalam film tidak sepenuhnya bergantung pada penonton festival. Tim justru membangun kondisi yang lebih terkontrol agar pemain dapat menjalankan adegan sesuai kebutuhan cerita.

Dalam kondisi tersebut, posisi pemain dan pemeran tambahan dapat diatur sebelum kamera merekam. Adegan juga memiliki ruang untuk diulang apabila ada bagian yang belum sesuai dengan kebutuhan sutradara.

Cara tersebut menjadi penting karena ada perbedaan mendasar antara syuting di festival sungguhan dan membuat kerumunan untuk kebutuhan film. Di Pestapora, penonton bergerak mengikuti acara dan kru tidak dapat mengatur seluruh aktivitas yang terjadi di sekitar pemain.

Sementara itu, penggunaan extras memberikan kendali lebih besar kepada tim produksi. Mereka dapat menentukan kepadatan, posisi, hingga pergerakan kerumunan agar sesuai dengan kebutuhan adegan.

Namun, 500 extras bukan sekadar orang yang ditempatkan untuk memenuhi latar belakang gambar. Tim juga berusaha memastikan mereka terlihat sebagai bagian dari dunia Pestapora yang sedang dibangun dalam film.

Hal tersebut terlihat dari perhatian tim terhadap detail penampilan para extras. Kawai Labiba mengungkapkan bahwa tim wardrobe melakukan riset tidak hanya untuk pemeran utama, tetapi juga ratusan extras yang terlibat.

“Riset yang mereka lakukan tuh bukan cuma untuk ke karakter kita, tapi juga ke 500 extras-nya tuh. Pokoknya dijagain banget gitu untuk menghidupkan dunia si Operasi Pesta Copet ini,” kata Kawai.

Dengan demikian, 500 extras memiliki fungsi lebih dari sekadar mengisi ruang kosong dalam gambar. Mereka menjadi bagian dari cara tim menciptakan kembali suasana festival ketika kondisi di lokasi asli tidak memungkinkan seluruh adegan dikendalikan.

Hasilnya kemudian dipadukan dengan footage Pestapora yang direkam ketika festival berlangsung. Perpaduan dua kondisi tersebut membuat kerumunan dalam film dapat terlihat sebagai satu suasana yang utuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....